Bahaya Globalisasi bagi Masyarakat Dunia

Posted on

Bahaya Globalisasi bagi Masyarakat Dunia

Pendahuluan
Pasca perang dingin adalah era dimulainya suatu masa keterbukaan, diawali dengan runtuhnya komunis di negara adidaya, Uni Soviet, disusul kemudian dengan dirubuhkannya tembok pembatas yang melintasi perbatasan Jerman Barat dan Jerman Timur. Keterbukaan berarti hilangnya komunisme sebab paham ini melindungi negara dan warga negaranya dengan menolak segala sesuatu yang berasal dari luar, terutama yang bertentangan dengan dogma yang dianut, maka tak aneh jika Uni Soviet saat jaya-jayanya dijuluki sebagai negara Tirai Besi karena ketertutupannya terhadap akses dari luar negaranya, kita hampir tidak bisa mendapatkan informasi secara utuh mengenai negara ini jika negara tersebut tidak memberikan infonya kepada luar. Jadi seringkali informasi yang diterima oleh luar bersifat sepihak, sangatlah sulit melakukan konfirmasi terhadap sumber berita, cukuplah juru bicara negara yang mewartakannya. Kita tidak bisa mengetahui secara jelas dan rinci mengenai suatu berita yang terjadi di suatu negara komunis sebab info yang seharusnya digamblangkan sejelas-jelasnya biasanya telah diplintir atau dibelokkan kebenarannya, informasi-informasi yang bersifat buruk yang dapat mencoreng wibawa dan martabat seringkali dipendam sedalam-dalamnya dengan maksud agar tidak ada orang yang mengetahuinya apalagi jika diketahui oleh musuh abadinya para negara kapitalis. Surat kabar lokal yang mewartakan berita-berita sensitif siap-siap menghadapai tangan besi rezim ini, surat kabar mereka umumnya dibreidel dan para pegawainya dikirim pemerintah melakukan kerja paksa di daerah Siberia yang terkenal sangat dingin dan kejam.
Tetapi ketika negara-negara komunis mulai bertumbangan satu-persatu kemudian mereka mulai membuka dirinya dengan mereformasi sistem yang dimiliki, lambat laun terkuaklah apa yang selama ini terjadi dari mulai pelanggaran hak asasi manusia yang begitu tinggi sampai kemiskinan dan kebangkrutan negara yang kentara. Sekarang ini tidaklah sulit untuk mendapatkan akses dari bekas-bekas negara yang menganut paham ini bahkan beberapa negara yang masih meemgang paham sosialis seperti Cina dan Kuba mulai memasukkan unsur-unsur kapitalis ke dalam sisitemnya walaupun mereka menolak dengan tegas bahwa sistem mereka anut tidak pernah disusupi unsur kapitalis namun kita bisa melihatnya bahwa paham sosialis yang mereka anut tidaklah semurni yang dicita-citakan pendirinya yaitu mulainya mereka membuka pasar dengan mengizinkan investor asing melakukan penanaman modal, suatu hal yang mustahil saat perang dingin masih berkecamuk hebat , bahkan di Cina dimasyarakatkan jargon “menjadi kaya tidak dilarang negara”. Seruan ini sangatlah muskil terjadi ketika bapak komunis Cina Mao Tse Tung masih berkuasa, sebab menurutnya “menjadi kaya” berarti ada yang miskin yang mencerminkan adanya perbedaan, hal ini bertentangan dengan azas agungnya “persamaan bagi setiap orang”, sama rasa sama rata. Hal yang dapat kita pahami dari fenomena ini adalah keterbukaan membuat setiap bangsa dan negara harus bersifat dinamis dan fleksibel, menyesuaikan sistemnya dengan kecenderungan yang ada agar rezim yang menguasainya dapat terus bertahan, negara yang masih bersifat kaku semsial Korea Utara mulai ditinggali oleh kawan-kawan lamanya dan sekarang ini keadaannya mulai merana bahkan dunia internasional semakin mendesak negara ini agar mau berunifikasi dengan saudara tuanya, Korea Selatan, namun tidaklah mudah melebur kedua negara ini, seperti mau menggabungkan air dan minyak, apalagi keduanya memiliki sistem yang saling bertolak belakang ditambah lagi dengan kepemilikan senjata nuklir Korea Utara yang bisa merupakan ancaman serius reunifikasi, senjata pamungkas ini melindungi dalih Korea Utara menangkal invasi boneka kapitalis Korea Selatan dan raja kapitalis Amerika Serikat.
Dampak Globalisasi
Sekarang ini keterbukaan semakin kuat berembus, dengan dipayungi oleh globalisasi yang berarti menjadikan segala sesuatunya global, meraksasa menjangkau seluruh dunia, keterbukaan dan globalisasi sepertinya menjadi pasangan yang sangat ideal, tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Globalisasi kemungkinan besar tidak akan ada bila keterbukaan tidak muncul dan begitu sebaliknya. Seluruh entitas yang mewarnai kehidupan masyarakat dunia tidak ada lagi yang tidak terpengaruh oleh sihir globalisasi. Produk, teknologi, kebudayaan sampai informasi merasuk jauh pada kehidupan masyarakat, tidak hanya di negara asalnya tetapi sampai ke seluruh negeri. Coca-Cola misalnya suatu produk dagang minuman ringan asal Amerika Serikat yang kental dengan idiomnya “always coca cola”, bisa ditemui dan dinikmati kesegarannya di kekeringan Gurun Sahara sampai di kelebatan hutan Amazon. Makanan siap saji Mcdonalds tidak hanya dinikmati anak-anak bule tetapi bisa juga dicicipi dan digemari oleh orang Melayu di negara asalnya. Kadangkala globalisasi membawa dampak buruk, pornografi salah satu contohnya, masalah ini begitu rumit dan semakin kompleks ketika internet atau jejaring dunia semakin mewabah di dunia, dengan internet tidak ada lagi informasi yang tak diketahui bahkan pornografipun bisa masuk ke suatu negara yang sebelumnya sangat ketat dalam mengawasi hal ini, tidak ada yang dapat mengawasi pesatnya pertukaran informasi di internet bahkan pemerintahpun tidak bisa memonitor apalagi memfilter informasi yang masuk dan keluar, kekhawatiran informasi akan diterima oleh orang yang tidak berhak dan sering disalahgunakan semakin merebak belakangan ini, baru-baru ini Indonesia dicap oleh para penerbit kartu kredit sebagai negara sarang pemalsu kartu kredit dengan modus membeli barang-barang secara on-line di internet dengan menggunakan kartu kredit yang bukan miliknya. Ini suatu kerugian besar bagi Indonesia sebab para netter atau pengguna internet di Indonesia sekarang ini tidak bisa lagi membeli barang secara on-line di Internet sekalipun mereka benar-benar secara sah pemegang kartu yang berkeinginan membeli barang di internet.
Neo Kolonialisme adalah bahaya terbesar yang akan dialami oleh negara-negara miskin dan berkembang ,saat mereka membutuhkan biaya untuk melakukan pembangunan di negaranya dan mulai meminta pinjaman kepada negara-negara donor yang kelihatan menolong tetapi sebenarnya sang penjajah gaya baru berkedok malaikat ( meminjam uang adalah trend globalisasi bagi negara miskin ), dengan meminjamkan uang berarti sang donor memiliki bargaining position yang baik terhadap pengutangnya, dan biasanya ketika negara pengutang sangat membutuhkan dana untuk menghindari keadaan perekonomian dari bahaya bangkrut, sang donor memberikan persyaratan tertentu yang merugikan bagi penerima dana misalnya pemerintah diminta mengambilalih hutang-hutang perusahaan swasta, mau menerima bibit pangan transgenik yang belum teruji benar baik dikonsumsi oleh manusia dan setuju membeli barang-barang untuk proyek pembangunan yang berasal dari negara pemberi dana padahal barang tersebut sudah bisa dibuat di dalam negeri dan harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan mengimpornya, karena tidak memliki pilihan lain akhirnya negara penerima dana harus takluk dengan menyanggupi untuk menjalankan persyaratan yang sebenarnya sangat merugikan. Ini adalah gaya kolonial para penjajah, mereka biasanya mengajukan persyaratan yang berat dan merugikan, bedanya dengan neo kolonial adalah hanya alatnya saja, dulu mereka memakai kekuatan senjata sekarang masuk dengan kekuatan yang kelihatan lebih halus tetapi mematikan yaitu kekuatan uang yang berlimpah, efeknya adalah sama membuat rakyat merana dan menderita dengan menanggung beban psikologis yang cukup berat.
Neo kolonialisme biasanya masuk ke suatu negara dengan berlindung dari kampanye globalisasi yang disuarakan oleh negara-negara kapitalis. Industri-industrinya yang meraksasa dan didukung oleh opini media yang terus menerus berbicara mengenai kebudayaan- kebudayaan modern yang belum tentu cocok dengan kebudayaan lokal, seakan-akan menghantam dunia setiap saat. Awalnya perusahaan transnasional asing mulai memberikan pengaruh pada masyarakat lokal dengan menyebarkan life style atau gaya hidup melalui media yang mereka miliki, media elektronik merupakan media yang paling efektif karena media ini memberikan rangsangan yang cukup kuat pada panca indera manusia, stimulus-stimulus ini terus menerus didengungkan sehingga kebanyakan manusia akan terpengaruh, hal ini persis seperti propaganda yang disampaikan setiap saat sewaktu akan terjadinya perang, memang sekarangpun sedang terjadi perang yaitu perang kebudayaan yang oleh sebagian orang dianggap lebih beradab dibandingkan perang dalam arti sebenarnya. Saat masyarakat sudah terpengaruh dengan terbentuknya opini-opini positif, perusahaan-perusahaan ini mulai menancapkan kekuatan di negara yang di”invasinya”. Biasanya mereka menggunakan 3 buah cara untuk menanamkan pengaruh perusahannya terhadap negara yang ditanami investasi olehnya, yang pertama dinamakan sub kontrak berarti sang perusahaan hanya memiliki trade mark saja, produknya dikerjakan perusahaan di negara lain, umumnya dibuat di negara-negara berkembang, pemegang trade mark menjatuhkan pilihan kepada negara ini sebab upah buruhnya bisa dibilang cukup murah, kemudian bahan bakunya melimpah dan pangsa pasarnya cukup besar. Perusahaan pembuat sepatu menerima order dari sang pemegang trade mark ketika kontraknya habis dan tidak diperpanjang maka perusahaan tidak boleh lagi memproduksi barang tersebut dan para pekerja kembali menjadi penganggur. Metode ini seperti peribahasa habis manis sepah dibuang, saat mereka membutuhkan mereka gunakan kesempatan untuk menyerap keuntungan sebesar mungkin dan ketika tak dibutuhkan mereka cukup memutuskan kontrak kemudian beralih menghisap keuntungan di tempat lain. Sistem ini membuat ketimpangan yang begitu tinggi sebab disatu sisi mereka memeras tenaga kerja dengan upah yang begitu rendah sehingga dapat menekan biaya produksi sekecil mungkin kemudian disisi lain mereka menjual barangnya dengan harga yang begitu tinggi dengan keuntungan yang bisa mencapai 500 %. Cara kedua dengan melakukan sistem subsidiari yaitu mereka langsung membuka pabrik di negara yang bersangkutan, cara ini dilakukan bila bahan baku tersedia cukup melimpah, sehingga mereka terpaksa membangun pabriknya di dekat bahan baku tersebut. Freeport adalah salah satu contoh perusahaan yang membangun pabriknya di Indonesia yaitu di propinsi Papua, mereka melihat sumber daya alam Papua begitu besarnya terutama bahan tambang berupa tembaga kemudian mereka mengekploitasi isi perut bumi Indonesia dengan ijin dari pemerintah untuk menambang tembaga. Kegiatan ini selain merusak alam karena limbah yang dibuang telah mendangkalkan alur sungai dan gunung-gunung berubah menjadi danau buatan yang ditinggalkan begitu saja sebab nilai ekonomisnya telah hilang, juga telah membohongi pemerintah sebab ternyata selain bahan tambang tembaga yang diambil, mereka juga mengambil emas yang harga dipasaran lebih tinggi dibandingkan tembaga. Memang tidak dipungkiri, bahwa mereka menggunakan penginderaan satelit untuk memetakan kekayaan alam Indonesia sehingga bisa diketahui potensi-potensi alam yang bisa digali dan dieksploitasi, satelit yang dimiliki oleh Amerika Serikat memiliki tingkat kedetailan dan keakuratan yang cukup tinggi maka dari tingkat ketinggian bumi tertentu mereka dengan seenaknya bisa melihat kontur suatu negara termasuk Indonesia yang kaya sumber daya alamnya, untuk mendapatkan informasi mengenai struktur, keaadaan tanah yang bisa mengindikasikan adanya suatu bahan tambang yang bernilai ekonomis. Dengan data dan informasi yang mereka miliki, Amerika Serikat dengan perusahaan Freeportnya masuk ke Indonesia meminta pemerintah untuk mengijinkan mereka menanamkan investasi di bidang pertambangan, informasi yang diberikan kepada pemerintah Indonesia hasil pengamatan satelitnya biasanya tidak menyeluruh, menyembunyikan sesuatu dengan tidak memberitahu pemerintah seluruhnya, lalu mereka mengajukan proposal dengan meminta ijin menambang tembaga dengan kontrak jangka panjang, sampai beberapa puluh tahun, padahal dalam prakteknya mereka menambang emas selain tembaga, hal ini menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi bangsa Indonesia sebab telah kehilangan devisa bermilyar-milyar dollar disamping rusaknya lingkungan akibat eksploitasi tersebut, namun dalam hal ini pemerintah berada dalam posisi yang lemah sebab telah terikat kontrak dengan freeport, jika pemerintah memutuskan kontrak pemerintah terancam sanksi dari badan arbitrasi Internasional atas pemutusan sepihak dan diwajibkan membayar sejumlah tertentu untuk menutupi kerugian perusahaan akibat pemutusan tersebut, dampak lainnya adalah kondisi investasi tidak lagi kondusif sebab para penanam modal terancam kehilangan dananya jika menanam modal di Indonesia karena pemerintah bisa semaunya memutuskan kontrak yang telah disepakati dan bagi pemerintah Indonesia sendiri adalah hilangnya lapangan kerja baru bagi rakyatnya. Cara ketiga perusahaan transnasional mengglobalkan produknya adalah menggunakan metode franschise, jadi secara tidak langsung mereka menyebarkan produk jualnya melalui perusahaan lokal yang membeli lisensi darinya. Intinya adalah perusahaan yang berbasis franschise menggunakan tenaga lokal seluruhnya dengan aset yang dimiliki oleh orang lokal pula tapi sistem manajemennya dipegang dan diatur pemegang merek. Para pekerja di perusahaan ini tidak diberi kebebasan untuk mengatur sistem produksi, sistem distribusi maupun sistem pemasarannya sendiri sehingga perusahaan franschise seperti perusahaan tukang jahit yang hanya menggabungkan bahan-bahan lokal menjadi suatu produk, cara menggabungkan kemudian strategi distribusi maupun pemasarannya diatur oleh pemegang merek, hal ini menyebabkan orang-orang lokal hanya bertindak sebagai tukang saja, kemampuan wirausahaannya tidak terasah dengan baik.
Globalisasi juga ditandai dengan munculnya area-area kerjasama ekonomi di seluruh dunia, di wilayah Asia Tenggara, Indonesia termasuk didalamnya, kerjasama ekonomi yang telah dirintis dalam kerjasama regional antar negara Asia Tenggara atau ASEAN telah melahirkan suatu kesepakatan ekonomi bersama yang dinamakan AFTA yaitu kesepakatan untuk membuka wilayah negara-negara Asia Tengara sebagai daerah atau area yang bebas bea masuk untuk barang-barang impor yang diekspor oleh suatu negara Asia Tenggara ke negara Asia Tenggara lainnya. Pada tahun 2004 nanti, barang-barang impor dari negara yang tergabung dalam ASEAN, tidak dikenakan bea apapun ketika masuk ke Indonesia dan begitu sebaliknya, selain itu para penduduk ASEAN yang ingin bekerja di negara ASEAN lainnya diperbolehkan tanpa ada pungutan apapun, tidak dianggap sebagai ekspatriat. Di wilayah yang lebih luas lagi misalnya Asia Pasifik juga telah terbentuk suatu forum kerjasama antar negara Pasifik, tujuan utama dibentuknya forum ini adalah kerjasama ekonomi antar anggota dengan fokus pembukaan pasar pada masing-masing negara. Untuk wilayah dunia, juga dibentuk suatu organisasi yang mengurus tata cara perdagangan dunia dengan para sponsor utamanya adalah negara-negara kapitalis seperti Amerika Serikat , Inggris , Australia dan lain-lain, organisasi yang dibentuk tersebut adalah WTO atau World Trade Organization, negara yang meratifikasi aturan WTO atau yang menjadi anggota WTO, harus menaati tata cara perdagangan yang diatur oleh WTO, jika melanggar maka akan diberi sanksi berupa tekanan terhadap negara penerima sanksi agar mematuhi resolusi yang dikeluarkan WTO dan pengucilan terhadap negara tersebut dengan memberi bea yang tinggi bagi produk ekspor penerima sanksi.
Kesimpulan
Globalisasi bagai dua sisi mata uang, satunya membawa kebaikan yang lainnya mendorong kepada keterpurukan, kita sebagai manusia yang diberi karunia tuhan akal sehat sehingga seharusnya bisa mencermati fenomena yang berupa kecenderungan yang terjadi dewasa ini, sebaiknya globalisasi bisa ditimbang baik-buruknya dengan pertimbangan bahwa globalisasi ini harus membawa seluruh manusia mendapatkan kesejahteraan, tidak hanya sebagian manusia saja yang menikmati kemakmuran tetapi seluruh mahluk yang berada dalam atmosfer ini harus bisa merasakannya, pertimbangan ini nampaknya hanya cita-cita utopia saja, namun tidaklah salah kita menggantungkan tujuan hidup kita pada cita-cita ideal yang disepakati oleh seluruh manusia, tidak berdasarkan pandangan orang Amerika saja atau menurut keinginan salah satu pihak saja. Visi ini harus disepakati oleh seluruh bangsa, bukan berasal dari suatu paksaan atau tekanan tapi berasal dari keinginan yang rela dan ikhlas untuk tumbuh bersama-sama menuju kesejahteraan umat manusia seluruhnya. Hal ini saya simak tidak nampak dari semangat mendirikan suatu sistem perdagangan yang dewasa ini dibangun, nampak terlihat jelas pihak barat yang dimotori oleh Amerika Serikat berusaha keras memaksakan keinginannya dan sekutu-sekutunya , menggolkan tujuan yang merupakan visi versinya sendiri. Apalagi pasca runtuhnya komunis, membuat mereka semakin sombong, dengan melakukan penekanan dan pemaksaan terhadap negara-negara yang tidak mau menerima visi mereka berupa embargo ekonomi. Keaadaan ini menimbulkan suasana yang tidak sehat di lingkungan dunia sebab dapat menimbulkan ketidaksenangan bahkan antipati, akibat yang lebih parah adalah ancaman perang global, perang dunia yang ketiga..
Globalisasi yang erat kaitannya dengan pasar bebas dan persaingan yang ketat, yang menuntut setiap negara untuk menciptakan insan-insan dengan kualifikasi yang tinggi dengan nilai jual yang sangat kompetitif. Disatu sisi ini merupakan suatu nilai positif dari globalisasi namun di sisi lainnya adalah suatu kerugian besar bagi umat manusia karena globalisasi hanya menuntun manusia sebagai mahluk pekerja yang cenderung kapitalis, yang melakukan semuanya semata-mata karena uang dan untuk memenuhi tuntutan pasar, rasa nilai-nilai tradisional berupa kebersamaan, kesamaan, kemanusiaan cenderung tersisih, hal ini akan mencetak manusia sebagai robot yang diprogram hanya untuk bersaing, mengalahkan yang lain untuk mendapat prestise dan kemakmuran semu.

5 thoughts on “Bahaya Globalisasi bagi Masyarakat Dunia

    Windsor Chowin said:
    November 17, 2008 at 8:01 am

    ini jelek banget!!… globalisasi itu bagus!! tidak ada dampak negatif

    ekazamov10 responded:
    November 17, 2008 at 8:19 am

    @Windsor.. Dear Bro Windsor salam kenal :)….Globalisasi itu baik atau buruk tergantung dari sudut kita memandang…semua hal di dunia ini ada baik dan ada buruknya..tergantung sudut pandang kita…salam

    devo said:
    March 11, 2009 at 7:33 pm

    bagus

    Dino said:
    May 5, 2009 at 7:17 pm

    Segala sesuatu tu psti ada positif negatifnya..

    Tp saya sangat berterimakasih,,soalnya ini membantu saya mengumpulkan informasi tentang globalisasi.

    b_virus said:
    June 9, 2012 at 10:46 am

    @windsor….. betapa bodohnya anda menganggap bahwa globalisasi itu tidak ada dampak negatifnya….

    belajar lagi y, biar lebih tahu dan pintar…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s