Dibalik Pentingnya Pengajuan Hak Paten

Posted on

Dibalik Pentingnya Pengajuan Hak Paten

Pendahuluan
Belum lama ini, surat kabar terbitan Indonesia santer memberitakan, para peneliti di Jepang telah mempatenkan tempe, padahal di Jepang sendiri makanan khas Indonesia ini baru-baru sekarang ini saja populer sedangkan di Indonesia makanan ini telah turun-temurun dikonsumsi oleh nenek moyang kita, berabad-abad lampau berbagai jenis atau varian tempe telah dihasilkan oleh bangsa Indonesia, tempe bongkrek dan tauco adalah jenis hasil olahan kedelai yang masih populer di Indonesia . Bahkan oleh pemimpin bangsa sendiri tempe sering dijadikan bahan ejekan, orang Indonesia diolok-olok sebagai bangsa tempe maksudnya bangsa Indonesia bangsa yang lembek, yang mudah menyerah dan terlalu pasrah. Namun setelah para peneliti Jepang meneliti pangan yang murah meriah ini dan mereka menemukan bahwa terdapat senyawa yang berfungsi sebagai zat antikanker, maka gemparlah jagat Indonesia Raya, tempe naik daun tidak lagi menjadi makanan orang susah tapi telah menjamur dan menjamah hotel-hotel berbintang di ibukota. ramai – ramailah surat kabar Indonesia memberitakan penemuan yang mencengangkan ini, malahan ada yang menyatakan (tentunya para elit bangsa Indonesia) , “tidak usahlah malu menjadi bangsa bermental tempe terbukti tempe antikanker”, kata mereka berapi-api seperti yang ditulis oleh salah satu koran terkemuka beroplah terbesar. Maka timbul masalah baru di kalangan masyarakat Indonesia, mengapa tempe bisa-bisanya dipatenkan oleh orang Jepang yang baru kemarin sore memakannya ?, tetapi pertanyaan yang paling esensi bagi kita adalah, apa itu paten ? dan mengapa bangsa lain bisa mengaku-ngaku makanan yang jelas-jelas asal Indonesia sebagai hasil dari penelitian mereka ?
Jawaban pertanyaan diatas ternyata cukup simpel, paten merupakan suatu deskripsi dari suatu ide yang formatnya telah ditentukan secara internasional dan penemuan tersebut merupakan teknologi yang dapat diterapkan dalam industri. Selama ini bangsa Indonesia atau individualnya tidak pernah melakukan pendaftaran paten atas nama tempe karena kesadaran akan pentingnya paten bagi bangsa Indonesia masih rendah kemudian bangsa Indonesia tidak pernah melakukan penelitian terhadap khasiat tempe bagi kesehatan akibatnya saat bangsa lain, ketika melihat tingkat prevelensi kanker orang Indonesia begitu rendah maka mereka memulai penelitian terhadap apa yang menjadi makanan populer bangsa Indonesia sebab pencegahan kanker sebagian besar berkorelasi dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari, dan ditemukanlah tempe sebagai sumber makanan antikanker. Akibatnya bangsa Indonesia tidak dapat mengajukan klaim atas kepemilikan tempe karena belum pernah didaftarkan sebelumnya sehingga royalti atau pembayaran atas penggunaan hak paten tempe oleh industri-industri pengolahan makanan semuanya dinikmati oleh bangsa Jepang. Jadi selama ini ide tempe memang mungkin asli dari Indonesia tetapi ketika ditemukan senyawa yang bermanfaat itu dan distandarkan oleh bangsa Jepang kemudian dibuat skala industrinya lalu dipatenkan maka sebenarnya sekarang ini tempe telah menjadi hak cipta orang Jepang.
Penyebab Lemahnya Pengajuan Hak Paten
Agar kita tidak lagi kecolongan terhadap kekayaaan intelektual asli Indonesia, kampanye pentingnya penggunaan paten untuk melindungi hak cipta harus segera dimasyarakatkan, selama ini ada anggapan bahwa pendaftaran hak paten membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama padahal sebenarnya bila kita melihat manfaatnya ke depan, biaya tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan hasil yang diperoleh atas royalti atau pembelian paten oleh perusahaan-perusahaan/ industri pengguna paten kita malahan apabila didalam menjalankan penelitian dan pengembangan suatu paten kita, tidak menampakkan prospek yang baik jika ditinjau dari segi teknik maupun nilai ekonomisnya maka pada pengajuan suatu paten sebelumnya, data-data yang disertakan dapat diperbaiki dan disempurnakan terhitung semenjak pengajuan pentahapan, kemudian karya intelektual tersebut setelah dirasa cukup memuaskan oleh sang penelitinya, akan diumumkan secara internasional selama beberapa bulan oleh badan paten dan jika tak ada sanggahan dari masyarakat kemudian diadakan penelitian kembali oleh badan paten, sehingga dengan demikian bagi para pengaju paten/peneliti memiliki waktu untuk memutuskan apakah pengajuan patennya dilanjutkan atau dihentikan.
Kesadaran yang rendah akan paten di Indonesia diperparah oleh kurang dihargainya hasil karya asli ciptaan sendiri, bangsa Indonesia dikenal oleh sebagai negara pembajak hak cipta, banyak produk-produk dagang contoh kecil tas kulit , desain dan mereknya dicontoh habis-habisan oleh para pengrajin aksesoris kulit, mereka tidak segan-segan meniru dan menjiplak produk yang sebetulnya merupakan karya orisinil seorang desainer, karya ini telah dipatenkan dan unutk meniru atau mencontohnya, seseorang harus mendapat ijin dari empunya dan membayar persentase penjualannya untuk royalti, namun hal ini tidak berlaku untuk diterapkan di Indonesia. Para pembajak tidak segan-segan mengaku bahwa produk yang dihasilkan merupakan buah karya asli ide dan buatannya, sebenarnya ini adalah suatu kejahatan dengan membohongi publik dan merugikan pemegang paten, belum tentu kualitas produknya sama dengan yang asli tetapi sang pembajak memasang trik yang cukup jitu untuk menarik pembeli, mereka biasanya menutupi kualitas produknya yang buruk dengan memasang harga dibawah harga produk orisinilnya, dan biasanya pembeli akan tertarik membelinya. Anggapan pembeli adalah rasa gengsi yang tinggi saat memakai produk-produk bermerek terkenal, mereka tidak lagi mempedulikan kualitas barang yang tidak terjamin dan keikutsertaannya dalam lingkaran kejahatan.
Penegakan hukum atau law enforcement di Indonesia yang masih rendah juga memicu kecilnya kesadaran akan pentingnya hak paten, polisi sebagai penegak hukum dianggap lemah dalam memberantas produk-produk bajakan berikut dengan pembajaknya, walaupun Undang-undang antipembajakan telah diberlakukan dan disahkan, para pelaksana dan penegak undang-undang terkesan setengah hati melakukannya, pembajakan tidak dianggap sebagai masalah sekrusial penyalahgunaan narkotika, para pembajak masih tetap dibiarkan berkeliaran melakukan kejahatannya. Memang polisi sering melakukan razia terhadapa barang-barang ilegal lagi palsu namun sebatas pada tingkat pengecer atau perantara tingkat kroco belum pada penjual kelas kakap yang merupakan master mind atau aktor intelektual dibalik maraknya pembajakan, itupun pembajaknya sering dilepas kembali atau didenda dengan denda yang rendah atau dikurung dalam hitungan bulan di penjara dan paling banter barang-barang hasil tangkapan polisi yang merupakan bajakan dimusnahkan dengan cara dibakar. Hal itu tidak akan membuat jera para pembajak, malahan akan menambah jumlah pembajak hak cipta, mereka menganggap akibat kejahatannya masih terlalu ringan ditanggung dibandingkan dengan keuntungan yang dapat mereka raup dari hasil membajak barang-barang yang memiliki trade mark Intinya adalah tidak ada tindakan yang keras dan konsisten terhadap para pembajak, sehingga membuat jera mereka. Kejahatan membajak hanyalah dianggap tindakan yang melanggar hukum tapi tidak membuat mereka malu untuk tidak melakukannya lagi dan oleh sebagian masyarakat tidak dianggap sebagai aib seperti halnya pencurian, padahal sebenarnya kedua-duanya adalah sama menimbulkan aib dan merendahkan harkat serta martabat. Jadi disini yang penting adalah menanamkan pendidikan kepada masyarakat akan pentingnya menghargai hasil karya orang lain dengan selalu membeli produk-produk orisinil.
Faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah kurangnya insentif yang diterima oleh para peneliti saat mereka mendapat penghargaan dari pemerintah, Agus Fanar Sukri seorang peneliti HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) menuturkan bahwa kurangnya penghargaan dari pemerintah ini menyebabkan para peneliti kurang terpacu untuk mencari dan mendapatkan suatu karya ilmiah yang inovatif dan bernilai jual tinggi kemudian porsi bidang riset dan teknologi dirasanya masih terlalu kecil hanya senilai 1 % dari seluruh anggaran pemerintah, nilai ini berkisar antara 11- 13 milyar rupiah dan harus mencukupi untuk membiayai riset-riset yang mempunyai scope yang cukup luas dan sangat beragam. Jumlah ini sangat tertinggal dibandingkan anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah di negara maju yang bisa sampai 20 % dari total anggaran pengeluarannya. Hal ini hanya akan menimbulkan suasana yang tidak kondusif dalam menumbuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dengan kemampuan inovasinya yang tinggi. Kecenderungan para peneliti yang berorientasi jangka pendek dengan mengejar kredit point semata juga menjadi suatu problem lemahnya pengajuan paten di Indonesia, para peneliti sebagian besar hanya meneliti dengan motivasi mendapatkan nilai point sebanyak-banyaknya untuk menaikkan jabatan strukturalnya. Padahal dengan melakukan penelitian jangka panjang yang terfokus, kedua hal ini dapat dipastikan tercapai, jabatan dan golongannya akan naik sekaligus mendapat royalti dari hak patennya. Dan yang terakhir adalah faktor jarak dan lokasi penelitian yang tersebar sampai ke pelosok daerah yang sebagian besar sangat sulit ditempuh oleh alat transportasi yang ada, terjadi jika seorang peneliti melakukan penelitian mengenai keanekaragamanhayati asli Indonesia bisa berupa tanaman atau fauna yang tumbuh dan hidup di hutan-hutan belantara, hal ini menyebabkan pos pengeluaran biaya perjalanan untuk pengurusan paten menjadi kendala tersendiri.
Walaupun dengan dana dan tenaga yang cukup terbatas pemerintah berharap bahwa pengajuan paten di Indonesia oleh peneliti Indonesia terus meningkat secara signifikan, pemerintah menargetkan pada awal tahun 2003 jumlah pengajuan paten secara nasional diharapkan mencapai 1000 paten, hal ini diestimasi dari pengajuan paten pada tahun-tahun sebelumnya yaitu yang hanya 203 buah ditahun 1998, kemudian menurun cukup drastis menjadi 88 di tahun 1999, untuk tahun 2000 jumlah pengajuan paten masih dibawah 500 buah. Jumlah ini masih cukup minim untuk negara seperti Indonesia yang berkeinginan untuk menapaki era industri, terlebih lagi akan menghadapi persaingan global yang benar-benar memerlukan ketahanan dan daya resistansi yang cukup kuat , salah satunya dapat ditunjang dengan berlimpahnya paten yang dimiliki. Kemudian berdasarkan data HAKI, persetujuan paten di Indonesia masih tergolong rendah, selama 10 tahun belakangan ini rata-rata persetujuan paten dibandingkan dengan pengajuan paten berkisar pada angka 3,5 %, jadi selebihnya sekitar 96.5 % paten tersebut dikuasai oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Australia, Swiss dan sebagainya. Hal ini cukup ironis dan mengkhawatirkan kita bersama sebab bahan-bahan untuk penelitian di Indonesia cukup banyak bahkan bisa dikatakan berlimpah, Indonesia dikenal dunia memiliki keanekaragaman hayati terbesar kedua setelah Brazil, padahal dari penelitian dari segi ini saja, sebenarnya kita dapat menghasilkan paten yang berlimpah namun banyaknya kendala yang dihadapi oleh peneliti serta ketidakfokusan pemerintah dalam mengkonsentrasikan para penelitinya pada bidang-bidang hayati yang cukup menjanjikan membuat kita selalu salah langkah malah sering kecolongan dengan didapatkannya paten oleh peneliti asing dari bahan atau kekayaan milik Indonesia seperti tempe atau motif kain batik, ini suatu kerugian besar bagi masa depan bangsa Indonesia dan ketika sekarang baru menyadarinya, semuanya telah terlambat.
Keterpurukan Indonesia dibidang paten, diperparah lagi dengan kedudukan negara Indonesia yang dimasukkan kedalam negara-negara yang terdaftar sebagai negara pembajak terbesar di dunia. Dalam bidang penggunaan copyright atau hak cipta perangkat lunak (software), rasio penggunaan barang ilegal dengan barang yang diakui hak ciptanya (legal) adalah sebesar 90 %, ini adalah terbesar kedua setelah Vietnam dan menimbulkan kerugian bagi pemilik paten yang sah sebesar 140 juta dollar, suatu nilai yang cukup besar bila dikurskan kedalam rupiah dan apalagi jika dihubungkan dengan kondisi Indonesia sekarang ini yang masih dicengkeram oleh krisis ekonomi yang terus berlanjut dan kian mencekik. Kerugian itu baru dari satu produk yang segmentasinya dimasyarakat cukup terbatas tetapi menimbulkan kerugian yang begitu besarnya, belum diperhitungkan produk atau barang-barang lain yang penggunaan di masyarakat cukup meluas misalnya seperti pakaian jadi, sepatu, tas, alat-alat rumah tangga, kaset, cakram kompak (VCD,DVD, CD, CD-ROM ), produk-produk makanan, industri dan lain-lain. Pembajakan dan pemalsuan di Indonesia dari penjelasan diatas nampak begitu menggurita, hampir menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat sehingga menimbulkan anekdot di kalangan rakyat Indonesia, sesungguhnya rival para pembajak dan pemalsu tinggalah Tuhan, karena mereka belum bisa memalsukan dan membajak mahluk hidup.
Kesimpulan
Banyaknya aset dan kekayaan intelektual lokal yang telah terdaftar di luar negeri sebagai milik orang asing akibat dari kurangnya kesadaran akan pentingnya aset karya intelektual ini telah mengakibatkan kerugian yang besar bagi Indonesia. Sehingga perlu ditanamkan kesadaran yang tinggi akan pentingnya pengajuan hak paten terutama pada masyarakat lokal yang memiliki kekayaan budaya yang memiliki nilai jual dan dapat di produksi secara masal.
Perlunya sosialisasi kepada masyarakat luas dengan menumbuhkan rasa budaya malu menggunakan produk-produk hasil pemalsuan dan bajakan, sosialisasi ini seharusnya diterapkan secara kontinyu untuk menimbulkan stimulus pada masyarakat sehingga pada akhirnya mereka akan sadar. Sesungguhnya pemalsuan dan pembajakan suatu produk atau trade mark memang tidak akan dapat diberangus secara total, tetapi setidak-tidaknya saat masyarakat telah sadar akan keaslian suatu barang dan faedahnya maka lambat laun pembajakan dan pemalsuan akan kehilangan pasar dan akan mati dengan sendirinya, sebab selama ini masyarakat merupakan konsumen dan ketika sang konsumen ini tidak lagi menggunakan barang hasil pemalsuan ataupun hasil bajakan maka para produsenpun akan kehilangan pasar. Tetapi harus diingat bahwa merebaknya pemalsuan dan pembajakan juga diakibatkan oleh keadaan ekonomi suatu negara, negara dengan pendapatan per kapitanya sangat kecil dan termasuk negara kategori miskin seperti di Indonesia, rentan terhadap kejahatan ini sebab pada mayoritas masyarakat, mereka membutuhkan barang atau produk dengan harga jual yang rendah atau murah tetapi masih bisa bergaya dengan merek terkenal dan inilah steorotip orang Indonesia, keinginan bergaya agar dipuji banyak orang , tidak peduli barang yang dipakai adalah barang imitasi. Disinilah peran pemerintah, dengan menggerakkan roda ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat akibatnya mereka bisa membeli barang orisinil tanpa perlu memakai barang tiruan.
Produsen penghasil barangpun seharusnya juga harus menyesuaikan nilai jual barangnya dengan kemampuan daya beli masyarakat Indonesia, terutama produsen barang dari luar negeri yang memakai patokan dollar atau mata uang asing lainnya. Akibat krisis yang berkepanjangan, mata uang rupiah terus terdepresiasi sampai 500 %, hal ini menimbulkan ketidakmampuan sebagian besar rakyat Indonesia membeli barang yang dipatok dengan kurs mata uang asing, sehingga mereka mengalihkan bidikan pengeluarannya dengan membeli barang-barang tiruan dan inilah yang terjadi sekarang ini di Indonesia. Seharusnya produsen tersebut lebih bijak dengan mengalihkan sebagian produksi untuk pangsa di Indonesia dengan memproduksi produknya di dalam negeri. Hal ini memberikan keuntungan ganda yaitu menambah lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia plus meningkatnya daya beli masyarakat dan harga jual produknya bisa ditekan lebih rendah lagi (sebab memakai bahan-bahan lokal) sehingga mampu dibeli oleh kebanyakan rakyat Indonesia.

2 thoughts on “Dibalik Pentingnya Pengajuan Hak Paten

    rusakparah said:
    November 26, 2008 at 3:30 am

    gimana sih prosedur mendaftarkan hak paten di Indonesia?? ribet gak? ada seorang kawan nih yang punya penemuan, tapi dia bingung gmana cara mengurus paten nya… ada tau infonya gak boss?? please infokan ke
    rr.krisna@gmail.com

    ekazamov10 responded:
    December 1, 2008 at 10:22 am

    @rusakparah, salam kenal maaf mas aku ngga tahu cara mengurus paten, kalau tulisan ini saya buat untuk tugas saat kuliah,
    salam
    ekapratania

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s