Kuantum Spiritual Quotient : Cara Praktis Menggapai SQ Tinggi (2)

Posted on Updated on

Ego Menghalangi Pencapaian Kecerdasan Spiritual

Ego berasal dari pikiran yang terkondisi yaitu ingatan yang terekam dalam alam bawah sadar yang didasari oleh keinginan untuk terus merasa nyaman dan aman, bila kita dihadapi oleh suatu keadaan maka ego ini akan memberikan sinyal terhadap masalah yang dihadapinya, ego akan bertindak sesuai dengan memori yang tercatat dalam bawah sadarnya, ia akan memutuskan apakah hal tersebut membuat nyaman atau tidak, bila itu tidak memberikan keamanan maka ego akan bereaksi dengan mengirimkan tanda agar kita menjauh. Contoh ego adalah takut, bukan rasa takut yang diakibatkan oleh keadaan fisik yang memang harus menimbulkan rasa tidak aman misalnya saat menemui ular berbisa tetapi keadaan psikis yang membuat hati kita menjadi khawatir. Ketakutan akan masa depan, khawatir dengan karirnya sekarang, kengerian kehilangan kekuasaan yang dipegangnya adalah contoh takut yang diakibatkan oleh ego kita. Ketika ego ini muncul, maka cenderung manusia mengalihkannya ke persoalan lain dengan tujuan agar perasaan ini segera hilang, memang untuk sementara waktu rasa tersebut akan terpinggirkan tetapi tidak akan hilang seperti ingin menghilangkan rasa pusing akibat kanker dengan menelan obat rasa sakit kepala. Kita menghilangkan akibat rasa sakitnya tapi tidak sumber yang menimbulkan sakit. Manusia cenderung mengalihkan egonya dengan rasa yang menimbulkan kesenangan, baginya pengalihan ini adalah obat mujarab padahal sesungguhnya mengalihkan ego ini adalah membentuk ego baru dengan rasa yang lain, alih-alih ingin menghilangkan rasa takut malah menimbun ego baru yang menambah gundukan ego yang telah ada. Jika rasa sakit tersebut ingin dihilangkan, seharusnya kita harus menghadapi rasa ego kita dengan berani, kita harus memandang ego tersebut secara holistik tidak lagi parsial, tidak hanya memikirkan eksesnya tapi melihat sumbernya secara langsung, jelas dengan penuh konsentrasi. Dengan kesadaran tinggi kita harus memandang ego apa adanya, dengan begitu kita bisa secara sadar mengetahui asal-usul ego sebenarnya, dan masing-masing individual harus merenungkannya sendiri-sendiri, kita tidak bisa menggeneralisasikan keadaan ego satu orang akan sama dengan yang lainnya, dengan penuh kehati-hatian seorang individu seharusnya menelusuri benang kusut yang terjadi pada dirinya dan saat ia menemukan simpul atau jawaban atas kekisruhan yang menimpanya, metodenya tidak bisa diterapkan kepada orang lain begitu saja, seseorang harus mencari caranya sendiri untuk mendapatkan jawaban. Namun ada kesamaan titik temu pada setiap orang yaitu ego secara keseluruhan bersumber pada kesenangan pribadi, keinginan untuk selalu memenuhi rasa senang pada dirinya atau dengan kata lain dengan menghindari sekecil mungkin dirinya terluka akibat tidak terpenuhi oleh rasa senang. Hal tersebut terjadi umumnya manusia, setelah mendapat kesenangan –dan ini tidaklah salah-, otak akan merekam manisnya perasaan tersebut. Yang menjadi keliru adalah, saat kesenangan itu berakhir –akan selalu berakhir, sebab dunia selalu berubah mengikuti roda kehidupan- maka memori yang telah tertanam di otak kita, meminta mengulang kesenangan-kesenangan yang dirasakan, akibatnya kita menjadi ketagihan dan teracuni menginginkan kesenangan-kesenangan yang dulu dirasakan, dialami kembali saat ini. Ketika kita tidak menemukan kesenangan yang kita inginkan, maka ego akan berulah dengan memberikan sinyal kekhawatiran dan ketakutan. Ego hidup dengan makanan berupa kesenangan-kesenangan yang telah terekam didalam otak dan dosisnya semakin lama-semakin besar mirip dengan seorang yang telah kecanduan narkotika, ego akan semakin tumbuh gemuk ketika ia diberi makanan ini, ia akan menutupi diri sejati kita yang sebenarnya hingga suatu saat kita menyangka bahwa diri kita adalah kekuasaan yang kita pegang, kehormatan yang diperoleh, harga diri yang diberikan orang-orang sekitar, tubuh kita yang dianggap indah. Dan ketika semuanya itu terenggut dari genggaman kita, kita merasa tidak ada, malu, tidak berharga dan terhempas seperti onggokan sampah. Ekses yang diakibatkan bila mengidentikkan dengan ego kita begitu dahsyatnya, dan kebanyakan manusia terjebak dalam putaran yang menyesatkan ini. Kerusakan bumi berupa kelaparan, peperangan, hancurnya lingkungan hidup berawal dari mengidentikkan diri dengan ego. Peperangan yang mengatasnamakan bangsaku, agamaku, negaraku dan ku-ku lainnya adalah bukti nyata betapa ego yang dikedepankan sebagai solusi pemecahan masalah, malah menimbulkan kehancuran manusia. Seseorang yang mengalami konflik dalam dirinya berupa kemarahan, iri hati, kebencian, kekhawatiran dan ketakutan merupakan bukti yang paling dekat dan umum dialami manusia bila melulu mengagungkan kesenangan-kesenangan pribadinya. Merasakan rasa senang -bedakan dengan gembira dan bahagia- yang merupakan ingatan mekanis yang terekam kuat dalam otak seseorang akan mengundang penderitaan bagi dirinya. Rasa senang dan penderitaan adalah dualitas yang berlaku di dunia fisik ini, dualitas selalu mengikuti hukum alam ; baik-buruk, malam-siang, panas-dingin adalah rangkaian implementasi dari hukum ini. Dualitas selalu mencari pasangannya dan egolah yang memisahkan dualitas ini, “aku suka rasa senang , aku tidak mau penderitaan” begitulah jeritan sang ego ketika ia mulai memilah-milah dualitas. Sang ego menginginkan rasa suka yang kekal dan tidak akan betah mendapatkan pasangan rasanya. Saat ego mulai memilah-milah maka manusia terperangkap konflik dan pertikaian dalam dirinya, manusia tidak bisa lagi selaras lagi dengan alam, mengalami depresi berat, denyut kehidupannya tidak lagi sinkron dengan getaran alam yang harmonis. Ia akan berada dalam satu dunia, dunia aku –dunia ego- yang membentenginya dari kehidupan yang bebas lepas. Benteng ego ini begitu halus dan transparan sampai-sampai manusia yang terperangkap didalamnya tidak menyadarinya, ia masih menjalani hidup tapi bukan diri sejatinya yang hidup egonyalah yang berkuasa. Gembira atau bahagia adalah berbeda sama sekali dengan senang, manusia dalam bahagia dan gembira adalah manusia sebenar-benarnya, manusia yang tidak lagi terikat akan kecanduan rasa senang, ia bebas menari-nari dengan lenturnya, baginya kemiskinan sama indahnya dengan kemakmuran, keterpurukan tiada bedanya dengan kemasyuran, sang ego telah hilang dalam dirinya hingga ia tidak lagi terjerumus dalam konflik, ia telah bebas dari candunya, terbang seperti Elang di keemasan cahaya matahari, dualitas telah ia lampaui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s