VOIP, Konvergensi Data dan Suara serta Permasalahannya

Posted on

VOIP, Konvergensi Data dan Suara serta Permasalahannya

Menuju Content Terintegrasi
Perkembangan telekomunikasi dewasa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, sejak ditemukannya telepon oleh Alexander Graham Bell lebih dari satu abad yang lalu, komunikasi antar individu atau masyarakat dunia tidak lagi dibatasi jarak dan waktu, komunikasi jarak jauh ini telah membawa masyarakat menuju kehidupan modern yang bercirikan pada keefisienan dan kepraktisan, berbicara atau mengobrol yang selama ini dirintangi oleh jarak lawan bicaranya dapat diperpanjang sampai ribuan bahkan jutaan kilometer. Komunikasi ini memberikan keleluasaan bagi siapapun sebab komunikasi jarak jauh tidak lagi kaku sifatnya, kita masih bisa mengerjakan atau melakukan kegiatan lain saat berkomunikasi dengan lawan bicara kita melalui telepon, apalagi ketika telepon bergerak diperkenalkan pada masyarakat, fleksibilitas dan mobilitas manusia menjadi semakin meningkat, kita bisa dihubungi dan menghubungi siapapun, dimanapun dan kapanpun
Selama perjalanan perkembangan teknologi telekomunikasi, komunikasi telepon melalui kawat tembaga telah menjadi pilihan untuk menghantarkan suara manusia yang telah dikonversi menjadi aliran listrik namun seiring dengan perkembangan dan perubahan jaman yang sedemikian cepat, kawat tembaga tidak lagi menjadi pilihan pertama bagi penyelenggara layanan telekomunikasi sebab ternyata kawat pilin tembaga memiliki keterbatasan dalam menampung kapasitas saluran pelanggannya. Kemudian dicarikan alternatif lain media yang dapat menyalurkan kanal suara melebihi kapasitas yang dapat ditangani oleh kawat tembaga maka muncullah serat optik yang diyakini oleh praktisi telekomunikasi bisa diandalkan sebagai tulang punggung media akses masa depan. Keyakinan pakar teknologi mengenai prospek serat optik yang sangat cerah didasarkan pada kemampuannya meng-handle kapasitas pelanggan dengan bandwidth yang secara teoritis bisa tak terhingga. Sentral telepon yang berfungsi merutekan pembicaraan dan melakukan fungsi switching juga mengalami perubahan yang cukup radikal, sekarang ini –setidaknya di Indonesia- tidak lagi dijumpai sentral yang bersistem analog artinya pemrosesan fungsi-fungsi sentral tidak dilakukan otomatis melainkan sangat dipengaruhi campur tangan operator, sentral jenis ini merupakan generasi pertama yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan komputerisasi yang semakin maju, sentral dewasa ini di-manage oleh prosesor-prosesor cerdas yang membuatnya semakin cepat dan efisien, tenaga manusia hanya dibutuhkan untuk mengendalikannya saja, sistem komputasi semuanya telah ditangani oleh alat pengolahan data. Ukuran sentral yang dulunya memakan banyak tempat dan ruang dengan ukurannya sebesar truk raksasa, sekarang ini telah dapat direduksi menjadi seukuran lemari pakaian dengan kemampuan yang melebihi sentral raksasa bahkan untuk teknologi yang lebih baru, sentral tidak lagi berwujud sebagai perangkat keras/hardware tapi telah menjelma menjadi suatu perangkat lunak yang diproses melalui superkomputer atau komputer berkapasitas besar, sentral dengan ukurannya yang semakin kecil dan inteligen ini dikenal sebagai softswitch. Inovasi yang sangat mempengaruhi mobilitas pemakai alat telekomunikasi adalah saat ditemukan komunikasi seluler, komunikasi ini memberikan mobilitas bagi penggunanya sehingga saat kita berkomunikasi tidak lagi terikat oleh tempat dan ruang, mobile communication benar-benar mengubah cara masyarakat dunia berkomunikasi secara revolusioner, kecenderungan pemakaian telepon seluler yang semakin meningkat membuat penggunaannya diprediksi 3 tahun kedepan akan melampaui telepon tradisional, fixed telepon, yang telah ada sejak seratusan tahun yang lalu.
Perkembangan teknologi diatas baru membicarakan content suara atau voice padahal seiring dengan majunya teknologi komunikasi suara, perkembangan teknologi komunikasi data juga berkembang dengan pesatnya yang ditandai dengan tumbuh pesatnya indutsri mikroprosesor serta kebutuhan masyarakat akan kebutuhan mendapatkan data yang cepat dan akurat. Sejak tahun 1970-an, awal dari revolusi mikroprosesor dengan dibuatnya chip untuk Personal Computer, mesin yang bisa ditanam mikroprosesor berukuran kecil, dari hal tersebut dimunculkan suatu teori mengenai banyaknya transistor yang dapat ditanam dalam prosesor yang akan berlipat 1, 5 kali lipat setiap 18 bulan, teori tersebut dikenal sebagai hukum Moore dinamai begitu untuk mengenang seorang bapak chip dunia yang berasal dari Intel Gordon Moore. Teori tersebut masih valid sampai sekarang, akibat dari munculnya teori tersebut maka pertumbuhan komputer berukuran mikro, PC, semakin pesat. Banyak perusahaan yang melakukan pekerjaan komputasinya beralih dari mainframe dan mini komputer ke mikro komputer yang lebih murah serta menghemat tempat. Saat perusahaan besar mengunakan PC yang jumlahnya puluhan bahkan bisa sampai ratusan host yang tersebar diberbagai departemen atau divisi, diperlukan suatu pengkoordiniran untuk mengatur hubungan antar hostnya fungsinya agar pertukaran data antar host yang saling membutuhkan dapat terjadi, awalnya digunakan seorang kurir yang berkeliling dari satu departemen ke departemen lain dengan membawa data yang diperlukan dalam media penyimpanan yang ringkas namun ketika jarak antar departemen semakin jauh yang bisa dipisahkan ratusan kilometer, membawa data melalui kurir manusia tidak lagi efisen dan praktis kemudian dipikirkan untuk membuat jaringan/network yang menghubungkan host-host tersebut menggunkan media kabel, maka muncul teknologi Local Area Network (LAN) yang melayani pertukaran data pada area terbatas biasanya didalam gedung dengan jarak sampai ratusan meter, untuk layanan area yang lebih luas yaitu antar gedung, antar kota maupun antar negara dikembangkan teknologi jaringan bersistem Wide Area Network (WAN). Masalahnya timbul saat perusahaan yang berlainan berkeinginan untuk saling berbagi data, sharing data antar perusahaan yang berbeda pada awal kemunculan LAN dan WAN tidak dimungkinkan sebab ternyata protokol yang digunakan perusahaan tersebut tidak sama sehingga interkoneksi antar keduanya tidak bisa dilakukan. Akibatnya protokol-protokol jaringan yang dikembangkan satu perusahaan tidak bisa berkomunikasi dengan jaringan yang dikembangkan perusahaan yang berbeda, masing-masing jaringan proprietary developernya maka pertukaran data hanya berlaku dalam satu jaringan dengan protokol yang identik, hal ini menimbulkan barier saat seseorang ingin bertukar data dengan protokol jaringan yang berbeda. Untuk menyelesaikan masalah internetworking antar protokol yang berbeda ini, para pengembang urun rembug dalam suatu forum yang difasilitasi oleh badan telekomunikasi dunia membicarakan standar yang bisa dipakai diseluruh dunia khususnya dalam komunikasi data, kemudian disepakati untuk standar jaringan internasional atau international Networking (internet) mengadopsi jaringan yang telah dikembangkan oleh badan keamanan nasional AS yang awalnya digunakan untuk jaringan keamanan yang berbasis pada internet protokol (IP). Saat ini IP telah digunakan secara global dan telah menjadi protokol yang paling populer digunakan diseluruh dunia, masalah platform berbeda yang menyebabkan problem pada internetworking tidak lagi terjadi ketika menggunakan standar protokol IP untuk melakukan proses pertukaran data. Sekarang ini IP telah membuat dunia menjadi satu jaringan besar yang saling terhubung satu sama lain melalui jejaring raksasa internet, komunikasi data menjadi suatu kebutuhan penting dalam era globalisasi ini
Ternyata manusia tidak cukup dipuaskan dengan pertumbuhan yang pesat masing-masing content tersebut, voice dan data. Ada suatu ide dari para praktii telekomunikasi untuk mengabungkan kedua content tersebut dengan content lain misalnya video dan graphic sehingga menghasilkan suatu layanan yang terintegrasi dalam satu jaringan berupa layanan grafik, voice, data sekaligus voice. Penggabungan ini akan menimbulkan konvergensi bagi jaringan itu sendiri sehingga memunculkan penghematan pada infrastruktur penyedia layanan yang ujung-ujungnya cost yang akan dikeluarkan konsumen semakin murah dan modal yang diperlukan untuk membiayai penggelaran jaringan akan semakin minim. Bisa dibayangkan pengeluaran yang akan dihemat saat layanan voice bisa ditumpangkan pada jaringan yang semula dikhususkan untuk melayani komunikasi data, kita tidak perlu lagi menggelar infrastruktur jaringan layanan suara end to end yang memakan biaya ribuan dollar untuk mendapatkan satu sambungan telepon (sst), cukup menggunakan jaringan komunikasi data yang ada dengan menambahkan beberapa entitas pada endpoint-endpoint tertentu, penambahan interface baru pada jaringan komunikasi data yang bisa mendukung terselenggaranya layanan voice hanya perlu mengeluarkan biaya puluhan sampai ratusan dollar per sst, biaya yang saya sebutkan dalam mata uang dollar bukan rupiah sebab interface tersebut semuanya masih harus diimpor. Penghematan yang bisa dilakukan saat mengintegrasikan layanan khususnya data dan suara sampai puluhan kali lipat sangat menolong bagi negara-negara berkembang yang kesulitan dalam mengembangkan jaringan voice dan data sebab mereka biasanya menemui kendala dalam pengembangan jaringan berbiaya mahal, dengan teknologi ini yang biasa dikenal sebagai VOIP , voice Over IP , bisa merupakan opsi utama dalam pemilihan jaringan terintegrasi yang handal.
Plus Minusnya VOIP
Voice over IP sekarang ini bisa menjadi lokomotif terhadap tren dunia telekomunikasi menuju all IP network. VOIP memberikan dimensi baru dalam bisnis pertelekomunikasian sebab menyuguhkan efisiensi besar-besaran pada modal dan jaringan yang ada. Akan ada operator-operator baru penyelenggara layanan telekomunikasi berbasis VOIP disebabkan sedikitnya modal yang diperlukan serta berlimpahnya pangsa pasar yang bisa digarap. Selama ini penetrasi telepon fixed dan seluler di Indonesia hanya menjangkau sekitar 3 % dari keseluruhan penduduk Indonesia, sedikitnya kepemilikan telepon disebabkan mahalnya penyelenggaraan jaringan PSTN dan seluler akibatnya daya jangkauannya hanya sebatas kota-kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi, daerah-daerah yang belum tersentuh oleh saluran komunikasi dua arah ini bisa merupakan pangsa pasar yang dapat digarap operator VOIP. Harga pulsa VOIP yang kompetitif, bahkan bisa dibilang sangat murah dibanding dengan biaya pulsa telepon dengan jaringan PSTN yang ada merupakan nilai plus kemungkinan VOIP booming di Indonesia, bisa dibayangkan perbedaan pulsa VOIP dengan pulsa Sambungan langsung Jarak Jauh (SLJJ) bisa berbeda sampai beberapa kali lipat. Bahkan untuk Sambungan Luar Negeri (SLI), pulsa yang diberikan VOIP biasanya bukan berdasarkan jarak seperti SLI yang ditawarkan oleh Indosat tetapi berdasarkan ketersediaan kanal-kanal VOIP yang disediakan oleh negara tujuan sehingga bisa terjadi pulsa VOIP untuk tujuan Amerika Serikat akan lebih murah bila dibandingkan kita menelepon dari Indonesia ke Singapura. Tetapi secara keseluruhan pulsa VOIP untuk SLI lebih murah dibandingkan dengan tarif termurah SLI biasa yang disediakan oleh Indosat. Biaya penyelenggaraan layanan VOIP yang lebih murah dibandingkan penggelaran layanan komunikasi oleh operator incumbient seperti PT.TELKOM akan menarik investor untuk menanamkan dananya dalam bisnis VOIP, dengan dana beberapa milyar rupiah seseorang sudah bisa menjadi operator VOIP dengan pelanggan bisa sampai ribuan, investasi untuk perawatan bisa dikatakan tidak ada sebab operator VOIP biasanya hanya menyewa kanal yang disediakan operator incumbient, jadi biaya operasi perawatan dan pemeliharaan telah dibebankan pada operator VOIP saat ia membayar sewa kanal. Intinya seorang operator VOIP setelah menginvestasikan modalnya tinggal menunggu dananya mencapai break event point dengan masuknya pelanggan menggunakan pulsanya untuk melakukan hubungan komunikasi berbasis VOIP. Pasar pelanggan VOIP yang besar terutama adalah korporat yang merasa terbebani oleh biaya operasional penggunaan pesawat telepon yang sangat tinggi. VOIP memberikan solusi yang jitu bagi perusahaan ini karena pulsa VOIP yang lebih murah dibandingkan dengan pulsa biasa memberikan penghematan yang dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas perusahaan yang sebelumnya terbebani biaya operasional penggunaan pesawat telepon yang tinggi.
Namun teknologi VOIP memiliki kekurangan yang cukup mendasar diantaranya yang cukup menganggu bagi pelanggan yang terbiasa dengan saluran sambungan telepon biasa atau non VOIP adalah masalah delay, akibat delay yang terjadi pada VOIP terlalu besar maka kualitas suara yang dihasilkannya tidak sebaik dengan kualitas suara non VOIP. Delay yang tinggi ini muncul karena voice ditumpangkan pada jaringan komunikasi data yang berbasis paket artinya saat voice diangkut dengan protokol IP diubah bentuknya menjadi paket-paket kecil yang kemudian diantrikan pada jaringan paket, dalam protokol komunikasi data dikenal istilah retransmisi yang terjadi akibat dari paket yang loss dan error sehingga penerima meminta pengiriman ulang paket yang rusak tersebut dan hal inilah yang menyumbangkan delay cukup besar pada VOIP. Untuk komunikasi data masalah retransmisi data tidak perlu dipersoalkan tetapi untuk realibilitas voice, retransmisi merupakan persoalan krusial sebab pertukaran informasi melalui voice mendekati real time, munculnya retransmisi akan menambah delay yang telah ada akibatnya suara yang diterima penerima akan terdengar putus-putus akibat delay yang dihasilkan oleh retransmisi. Dan ini cukup menganggu pendengaran penerima yang belum terbiasa berkomunikasi melalui jaringan VOIP. Untuk masalah delay ini memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, delay hanya bisa diminimalisasi sampai pada batas tertentu sampai telinga manusia menerima informasi tersebut tidak lagi terputus-putus, biasanya perekayasa memberi batasan delay yang paling lama untuk pembicaraan sampai dengan batas toleransi telinga manusia adalah sekitar 250 ms sedangkan teknologi VOIP baru mencapai delay minimum pada tingkat 350 ms, kekurangan pencapaian batas ini kemungkinan bisa terselesaikan dalam beberapa tahun mendatang dengan ditemukannya teknologi penekan delay yang menggunakan algoritma khusus yang sekarang ini masih dalam pengembangan.
Masalah lain yang dihadapi oleh VOIP adalah regulasi yang belum jelas mengenai ke-legal-an VOIP. Pemerintah dalam hal ini yang berwenang mengeluarkan undang-undang masih ragu-ragu dan setengah hati mengakui VOIP sebagai pilihan teknologi yang cukup mumpuni untuk mengurangi keterbatasan pemakaian saluran telepon di Indonesia. Kekhawatiran pemerintah atas merebaknya penggunaan VOIP di Indonesia cukup beralasan sebab VOIP dapat dipastikan akan menggerogoti kue yang selama ini dikuasai oleh Badan Usaha milik pemerintah yaitu PT. TELKOM. Ketika tarif pulsa yang dikenakan oleh operator VOIP cukup murah dibanding tarif pulsa yang ditawarkan oleh PT. TELKOM maka akan timbul migrasi besar-besaran pelanggan telekomunikasi PT. TELKOM ke operator penyelenggara VOIP, apalagi jika kualitas suara yang dihasilkannya dapat menyamai kejernihan telepon PSTN yang dikelola PT.TELKOM. Jadi dalam hal ini adalah ketidaksiapan PT TELKOM menghadapi kompetitornya dalam menawarkan solusi berkomunikasi murah yang terjangkau oleh kebanyakan masyarakat. Pemerintah seharusnya bersikap adil dengan memberikan keleluasaan pada operator VOIP untuk membuka usahanya di Indonesia dengan mengeluarkan regulasinya yang cukup fair dan dapat diterima oleh semua pihak, dengan adanya persaingan sehat antar operator VOIP dengan PT. TELKOM maka akan timbul suatu kompetisi ketat yang kedepannya bisa memberikan pilihan bagi masyarakat untuk memilih solusi komunikasinya dan kompetisi ini juga menjadi ajang bagi masyarakat untuk menilai kinerja BUMN sekaligus mendidik BUMN tersebut agar tidak manja tak mau berkompetisi dengan pihak lain dengan diberikannya proteksi dan hak monopoli oleh pemerintah. Sebenarnya PT TELKOM dan operator VOIP bisa saling bersinergi membangun jaringan telekomunikasi. PT. TELKOM dapat menyediakan jaringan backbone dan interkoneksinya yang bisa digunakan dan disewakan kepada operator VOIP, kedua-duanya dapat diuntungkan dengan simbiosis ini yaitu operator memperoleh profit dari masyarakat pengguna VOIP, PT TELKOM memperoleh uang sewa jaringan yang digunakan VOIP dan beban pemerintah mengurangi pengangguran juga tertolong dengan merebaknya operator VOIP yang mau tak mau membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit. PT TELKOM tidak seharusnya ikut-ikutan menjadi penyelenggara VOIP sebab hal ini bisa menimbulkan ketimpangan dan kecurigaan pada berbagai pihak bahwa PT TELKOM hanya sekedar ikut-ikutan tren, tidak ada kejelasan fokus pengembangan bisnisnya, dan yang terpenting adalah ikut mematikan bibit-bibit kewirausahaan pengusaha penyelenggara VOIP serta menambah beban pemerintah dengan tidak mensukseskan program perluasan lapangan kerja.
VOIP Membukakan Mata Kita Semua
Konvergensi voice dan data tidak bisa dipungkiri lagi menimbulkan konsekuensi logis yang besar bagi penyelenggara telekomunikasi terutama operator yang menguasai layanan telekomunikasi dari hulu sampai ke hilir seperti TELKOM dan INDOSAT. Tak dinyana dengan kemunculan Voice Over IP menimbulkan perubahan besar kepada paradigma yang selama ini di anut pasar, pergeseran paradigma dari keyakinan pada masa depan yang dapat diprediksi (predictable) menuju realitas masa depan yang penuh ketidakpastian yang tak terprediksi. Paradigma sekarang ini harus selalu diselaraskan dengan kecenderungan yang terjadi serta terhadap tuntutan pasar layanan berbasis IP.
Munculnya VOIP memberikan gambaran yang jelas pada kita bahwa teknologi berubah dengan cepatnya, walaupun masih memiliki kekurangan disana-sini. VOIP merupakan teknologi yang cukup menjanjikan di masa depan sebagai teknologi pilihan untuk solusi komunikasi murah yang bisa ditawarkan kepada masyarakat. Kesiapan pemerintah dalam merespon teknologi yang muncul dengan mengeluarkan regulasi atau Undang-undang yang cukup fair merupakan syarat mutlak bangsa ini bisa maju dan bisa bersaing dengan bangsa lain dalam menghadapi persaingan bebas dan tantangan globalisasi.
Adalah mengkhawatirkan sekali , jika bangsa ini hanya sebagai pemakai teknologi bangsa lain, pasar dalam negeri hanya dijadikan sebagai tempat riset bagi perusahaan asing dalam merespon setiap bentuk teknologi yang ditawarkan. Para perekayasa seharusnya mulai harus telah berpikir untuk tidak hanya mengadopsi teknologi yang ditawarkan dari luar tetapi bisa memodifikasi bahkan membuat teknologi baru yang mampu menandingi atau melebihi teknologi yang ada. Tradisi menuju tingkat modifikasi atau membuat teknologi tepat guna yang mampu berkompetisi dengan teknologi sejenis yang ditawarkan oleh asing sangat langka dicari dan ini merupakan pekerjaan rumah yang cukup berat bagi kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s