networking

Mengejar CCNP…

Posted on

Keinginan untuk mendapatkan sertifikat CCNP tahun ini sepertinya harus dijadwalkan ulang, ternyata banyak pekerjaan rumah yang tiba-tiba menghadang menghapus mimpi saya untuk mendapatkan CCNP tahun ini. Masalah fokus menjadi kelemahan saya, banyak hal yang harus diprioritaskan dan sayangnya prioritas itu bukanlah mendapatkan CCNP. Pekerjaan networking saya yang menumpuk membuat saya harus mengalihkan perhatian dan yang terutama adalah masalah perpindahan kantor ke gedung baru, tidak masalah kalau perpindahan ini tidak melibatkan infrastruktur IT. Namun kenyataannya infrastruktur IT-lah yang menjadi masalah utama dalam perpindahan ini. saya harus terlibat sangat intens dalm perpindahan ini sehinggea downtime yang terjadi masih dalam tahap yang wajar dan saya juga yang menjadi penanggung jawab secara langsung apabila terjadi sesuatu hal yang berkenaan dengan Network, mau tidak mau saya harus mencoba mengalihkan fokus tidak untuk mendapatkan CCNP untuk sementara waktu. Malah mungkin mengejar CCNP diganti dengan fokus mengambil dahulu CCNA, karena ujian resertifikasi CCNApun sampai saat ini belum saya ambil, suatu kemunduran memang…namun apa daya saya harus menjalani itu semua

Advertisements

SSH ke Router 2811 HSEC/K9

Posted on

Setelah lama menunggu sekitar lima tahun-an, akhirnya saya bisa nge-remote Router Cisco lewat port 22., rekor tersendiri bagi saya, walaupun sudah lama menggunakan Secure Shell alias SSH namun port itu dipake untuk nge-remote server-server Linux yang saya bangun tidak untuk router Cisco. Selama ini hanya cukup puas dengan telnet yang tidak terlalu aman untuk nge-remote.
Kantor kebetulan baru membeli router ISR 2811 HSEC/K-9, ber-fitur Security, tentunya sudah built-in SSH. Hal ini membuat saya mengucapakan selamat tinggal untuk Telnet, sayangnya hanya router ini yang bisa di remote lewat SSH router lainnya masih pakai yang tradisional nge-remotenya. Tapi setidaknya ini memecahkan rekor setelah menunggu lebih lima tahun.
Saya sekalian ngoprek untuk liat SDMnya (Security Device Manager), cara lain nge-kondigur router Cisco pake tampilan grafis, setelah lihat fitur lengkapnya ternyata Router 2811 HSEC/K9 sudah mendukung dan sudah tertanam didalamnya untuk fitur : Netflow, VPN pakai SSL modul, IPS. Cihuyy…..waktunya ngoprek

Project I : Resertifikasi CCNA

Posted on

Weleehhh… CCNAku sudah kadaluwarsa dua tahun yg lalu, jadi kalo mo ngambil CCNP harus resertifikasi CCNA dulu. Oleh karena itu saya canangkan project I dimulai hari ini 12 Juni 2007 jam 18.15 WIB.
Untuk mensukseskan project ini diambil langkah2 strategis sebagai berikut :
1. Beli meja kecil, buat dudukan Laptop t43 IBM.
2. Beli Cushion, buwt dudukan saya
3. Ngumpulin bahan-bahan CCNA 640-801
4. Ngumpulin contoh soal CCNA 640-801
5. Bawa Laptop kantor buwt belajar dikos-an
6. Mudah-mudahan jadi belajarnya :D, hehehehee
7. Ikut training CCNA (yg ini gratis dibayarin kantor..heheheheee)
8. Ngambil Ujian CCNA 640-801 ( yg ini juga dibayarin kantor)

Langkah-langkah strategis tersebut akan dijabarkan lagi
dengan langkah yg lebih terperinci.

Dibalik Pentingnya Pengajuan Hak Paten

Posted on

Dibalik Pentingnya Pengajuan Hak Paten

Pendahuluan
Belum lama ini, surat kabar terbitan Indonesia santer memberitakan, para peneliti di Jepang telah mempatenkan tempe, padahal di Jepang sendiri makanan khas Indonesia ini baru-baru sekarang ini saja populer sedangkan di Indonesia makanan ini telah turun-temurun dikonsumsi oleh nenek moyang kita, berabad-abad lampau berbagai jenis atau varian tempe telah dihasilkan oleh bangsa Indonesia, tempe bongkrek dan tauco adalah jenis hasil olahan kedelai yang masih populer di Indonesia . Bahkan oleh pemimpin bangsa sendiri tempe sering dijadikan bahan ejekan, orang Indonesia diolok-olok sebagai bangsa tempe maksudnya bangsa Indonesia bangsa yang lembek, yang mudah menyerah dan terlalu pasrah. Namun setelah para peneliti Jepang meneliti pangan yang murah meriah ini dan mereka menemukan bahwa terdapat senyawa yang berfungsi sebagai zat antikanker, maka gemparlah jagat Indonesia Raya, tempe naik daun tidak lagi menjadi makanan orang susah tapi telah menjamur dan menjamah hotel-hotel berbintang di ibukota. ramai – ramailah surat kabar Indonesia memberitakan penemuan yang mencengangkan ini, malahan ada yang menyatakan (tentunya para elit bangsa Indonesia) , “tidak usahlah malu menjadi bangsa bermental tempe terbukti tempe antikanker”, kata mereka berapi-api seperti yang ditulis oleh salah satu koran terkemuka beroplah terbesar. Maka timbul masalah baru di kalangan masyarakat Indonesia, mengapa tempe bisa-bisanya dipatenkan oleh orang Jepang yang baru kemarin sore memakannya ?, tetapi pertanyaan yang paling esensi bagi kita adalah, apa itu paten ? dan mengapa bangsa lain bisa mengaku-ngaku makanan yang jelas-jelas asal Indonesia sebagai hasil dari penelitian mereka ?
Jawaban pertanyaan diatas ternyata cukup simpel, paten merupakan suatu deskripsi dari suatu ide yang formatnya telah ditentukan secara internasional dan penemuan tersebut merupakan teknologi yang dapat diterapkan dalam industri. Selama ini bangsa Indonesia atau individualnya tidak pernah melakukan pendaftaran paten atas nama tempe karena kesadaran akan pentingnya paten bagi bangsa Indonesia masih rendah kemudian bangsa Indonesia tidak pernah melakukan penelitian terhadap khasiat tempe bagi kesehatan akibatnya saat bangsa lain, ketika melihat tingkat prevelensi kanker orang Indonesia begitu rendah maka mereka memulai penelitian terhadap apa yang menjadi makanan populer bangsa Indonesia sebab pencegahan kanker sebagian besar berkorelasi dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari, dan ditemukanlah tempe sebagai sumber makanan antikanker. Akibatnya bangsa Indonesia tidak dapat mengajukan klaim atas kepemilikan tempe karena belum pernah didaftarkan sebelumnya sehingga royalti atau pembayaran atas penggunaan hak paten tempe oleh industri-industri pengolahan makanan semuanya dinikmati oleh bangsa Jepang. Jadi selama ini ide tempe memang mungkin asli dari Indonesia tetapi ketika ditemukan senyawa yang bermanfaat itu dan distandarkan oleh bangsa Jepang kemudian dibuat skala industrinya lalu dipatenkan maka sebenarnya sekarang ini tempe telah menjadi hak cipta orang Jepang.
Penyebab Lemahnya Pengajuan Hak Paten
Agar kita tidak lagi kecolongan terhadap kekayaaan intelektual asli Indonesia, kampanye pentingnya penggunaan paten untuk melindungi hak cipta harus segera dimasyarakatkan, selama ini ada anggapan bahwa pendaftaran hak paten membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama padahal sebenarnya bila kita melihat manfaatnya ke depan, biaya tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan hasil yang diperoleh atas royalti atau pembelian paten oleh perusahaan-perusahaan/ industri pengguna paten kita malahan apabila didalam menjalankan penelitian dan pengembangan suatu paten kita, tidak menampakkan prospek yang baik jika ditinjau dari segi teknik maupun nilai ekonomisnya maka pada pengajuan suatu paten sebelumnya, data-data yang disertakan dapat diperbaiki dan disempurnakan terhitung semenjak pengajuan pentahapan, kemudian karya intelektual tersebut setelah dirasa cukup memuaskan oleh sang penelitinya, akan diumumkan secara internasional selama beberapa bulan oleh badan paten dan jika tak ada sanggahan dari masyarakat kemudian diadakan penelitian kembali oleh badan paten, sehingga dengan demikian bagi para pengaju paten/peneliti memiliki waktu untuk memutuskan apakah pengajuan patennya dilanjutkan atau dihentikan.
Kesadaran yang rendah akan paten di Indonesia diperparah oleh kurang dihargainya hasil karya asli ciptaan sendiri, bangsa Indonesia dikenal oleh sebagai negara pembajak hak cipta, banyak produk-produk dagang contoh kecil tas kulit , desain dan mereknya dicontoh habis-habisan oleh para pengrajin aksesoris kulit, mereka tidak segan-segan meniru dan menjiplak produk yang sebetulnya merupakan karya orisinil seorang desainer, karya ini telah dipatenkan dan unutk meniru atau mencontohnya, seseorang harus mendapat ijin dari empunya dan membayar persentase penjualannya untuk royalti, namun hal ini tidak berlaku untuk diterapkan di Indonesia. Para pembajak tidak segan-segan mengaku bahwa produk yang dihasilkan merupakan buah karya asli ide dan buatannya, sebenarnya ini adalah suatu kejahatan dengan membohongi publik dan merugikan pemegang paten, belum tentu kualitas produknya sama dengan yang asli tetapi sang pembajak memasang trik yang cukup jitu untuk menarik pembeli, mereka biasanya menutupi kualitas produknya yang buruk dengan memasang harga dibawah harga produk orisinilnya, dan biasanya pembeli akan tertarik membelinya. Anggapan pembeli adalah rasa gengsi yang tinggi saat memakai produk-produk bermerek terkenal, mereka tidak lagi mempedulikan kualitas barang yang tidak terjamin dan keikutsertaannya dalam lingkaran kejahatan.
Penegakan hukum atau law enforcement di Indonesia yang masih rendah juga memicu kecilnya kesadaran akan pentingnya hak paten, polisi sebagai penegak hukum dianggap lemah dalam memberantas produk-produk bajakan berikut dengan pembajaknya, walaupun Undang-undang antipembajakan telah diberlakukan dan disahkan, para pelaksana dan penegak undang-undang terkesan setengah hati melakukannya, pembajakan tidak dianggap sebagai masalah sekrusial penyalahgunaan narkotika, para pembajak masih tetap dibiarkan berkeliaran melakukan kejahatannya. Memang polisi sering melakukan razia terhadapa barang-barang ilegal lagi palsu namun sebatas pada tingkat pengecer atau perantara tingkat kroco belum pada penjual kelas kakap yang merupakan master mind atau aktor intelektual dibalik maraknya pembajakan, itupun pembajaknya sering dilepas kembali atau didenda dengan denda yang rendah atau dikurung dalam hitungan bulan di penjara dan paling banter barang-barang hasil tangkapan polisi yang merupakan bajakan dimusnahkan dengan cara dibakar. Hal itu tidak akan membuat jera para pembajak, malahan akan menambah jumlah pembajak hak cipta, mereka menganggap akibat kejahatannya masih terlalu ringan ditanggung dibandingkan dengan keuntungan yang dapat mereka raup dari hasil membajak barang-barang yang memiliki trade mark Intinya adalah tidak ada tindakan yang keras dan konsisten terhadap para pembajak, sehingga membuat jera mereka. Kejahatan membajak hanyalah dianggap tindakan yang melanggar hukum tapi tidak membuat mereka malu untuk tidak melakukannya lagi dan oleh sebagian masyarakat tidak dianggap sebagai aib seperti halnya pencurian, padahal sebenarnya kedua-duanya adalah sama menimbulkan aib dan merendahkan harkat serta martabat. Jadi disini yang penting adalah menanamkan pendidikan kepada masyarakat akan pentingnya menghargai hasil karya orang lain dengan selalu membeli produk-produk orisinil.
Faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah kurangnya insentif yang diterima oleh para peneliti saat mereka mendapat penghargaan dari pemerintah, Agus Fanar Sukri seorang peneliti HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) menuturkan bahwa kurangnya penghargaan dari pemerintah ini menyebabkan para peneliti kurang terpacu untuk mencari dan mendapatkan suatu karya ilmiah yang inovatif dan bernilai jual tinggi kemudian porsi bidang riset dan teknologi dirasanya masih terlalu kecil hanya senilai 1 % dari seluruh anggaran pemerintah, nilai ini berkisar antara 11- 13 milyar rupiah dan harus mencukupi untuk membiayai riset-riset yang mempunyai scope yang cukup luas dan sangat beragam. Jumlah ini sangat tertinggal dibandingkan anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah di negara maju yang bisa sampai 20 % dari total anggaran pengeluarannya. Hal ini hanya akan menimbulkan suasana yang tidak kondusif dalam menumbuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dengan kemampuan inovasinya yang tinggi. Kecenderungan para peneliti yang berorientasi jangka pendek dengan mengejar kredit point semata juga menjadi suatu problem lemahnya pengajuan paten di Indonesia, para peneliti sebagian besar hanya meneliti dengan motivasi mendapatkan nilai point sebanyak-banyaknya untuk menaikkan jabatan strukturalnya. Padahal dengan melakukan penelitian jangka panjang yang terfokus, kedua hal ini dapat dipastikan tercapai, jabatan dan golongannya akan naik sekaligus mendapat royalti dari hak patennya. Dan yang terakhir adalah faktor jarak dan lokasi penelitian yang tersebar sampai ke pelosok daerah yang sebagian besar sangat sulit ditempuh oleh alat transportasi yang ada, terjadi jika seorang peneliti melakukan penelitian mengenai keanekaragamanhayati asli Indonesia bisa berupa tanaman atau fauna yang tumbuh dan hidup di hutan-hutan belantara, hal ini menyebabkan pos pengeluaran biaya perjalanan untuk pengurusan paten menjadi kendala tersendiri.
Walaupun dengan dana dan tenaga yang cukup terbatas pemerintah berharap bahwa pengajuan paten di Indonesia oleh peneliti Indonesia terus meningkat secara signifikan, pemerintah menargetkan pada awal tahun 2003 jumlah pengajuan paten secara nasional diharapkan mencapai 1000 paten, hal ini diestimasi dari pengajuan paten pada tahun-tahun sebelumnya yaitu yang hanya 203 buah ditahun 1998, kemudian menurun cukup drastis menjadi 88 di tahun 1999, untuk tahun 2000 jumlah pengajuan paten masih dibawah 500 buah. Jumlah ini masih cukup minim untuk negara seperti Indonesia yang berkeinginan untuk menapaki era industri, terlebih lagi akan menghadapi persaingan global yang benar-benar memerlukan ketahanan dan daya resistansi yang cukup kuat , salah satunya dapat ditunjang dengan berlimpahnya paten yang dimiliki. Kemudian berdasarkan data HAKI, persetujuan paten di Indonesia masih tergolong rendah, selama 10 tahun belakangan ini rata-rata persetujuan paten dibandingkan dengan pengajuan paten berkisar pada angka 3,5 %, jadi selebihnya sekitar 96.5 % paten tersebut dikuasai oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Australia, Swiss dan sebagainya. Hal ini cukup ironis dan mengkhawatirkan kita bersama sebab bahan-bahan untuk penelitian di Indonesia cukup banyak bahkan bisa dikatakan berlimpah, Indonesia dikenal dunia memiliki keanekaragaman hayati terbesar kedua setelah Brazil, padahal dari penelitian dari segi ini saja, sebenarnya kita dapat menghasilkan paten yang berlimpah namun banyaknya kendala yang dihadapi oleh peneliti serta ketidakfokusan pemerintah dalam mengkonsentrasikan para penelitinya pada bidang-bidang hayati yang cukup menjanjikan membuat kita selalu salah langkah malah sering kecolongan dengan didapatkannya paten oleh peneliti asing dari bahan atau kekayaan milik Indonesia seperti tempe atau motif kain batik, ini suatu kerugian besar bagi masa depan bangsa Indonesia dan ketika sekarang baru menyadarinya, semuanya telah terlambat.
Keterpurukan Indonesia dibidang paten, diperparah lagi dengan kedudukan negara Indonesia yang dimasukkan kedalam negara-negara yang terdaftar sebagai negara pembajak terbesar di dunia. Dalam bidang penggunaan copyright atau hak cipta perangkat lunak (software), rasio penggunaan barang ilegal dengan barang yang diakui hak ciptanya (legal) adalah sebesar 90 %, ini adalah terbesar kedua setelah Vietnam dan menimbulkan kerugian bagi pemilik paten yang sah sebesar 140 juta dollar, suatu nilai yang cukup besar bila dikurskan kedalam rupiah dan apalagi jika dihubungkan dengan kondisi Indonesia sekarang ini yang masih dicengkeram oleh krisis ekonomi yang terus berlanjut dan kian mencekik. Kerugian itu baru dari satu produk yang segmentasinya dimasyarakat cukup terbatas tetapi menimbulkan kerugian yang begitu besarnya, belum diperhitungkan produk atau barang-barang lain yang penggunaan di masyarakat cukup meluas misalnya seperti pakaian jadi, sepatu, tas, alat-alat rumah tangga, kaset, cakram kompak (VCD,DVD, CD, CD-ROM ), produk-produk makanan, industri dan lain-lain. Pembajakan dan pemalsuan di Indonesia dari penjelasan diatas nampak begitu menggurita, hampir menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat sehingga menimbulkan anekdot di kalangan rakyat Indonesia, sesungguhnya rival para pembajak dan pemalsu tinggalah Tuhan, karena mereka belum bisa memalsukan dan membajak mahluk hidup.
Kesimpulan
Banyaknya aset dan kekayaan intelektual lokal yang telah terdaftar di luar negeri sebagai milik orang asing akibat dari kurangnya kesadaran akan pentingnya aset karya intelektual ini telah mengakibatkan kerugian yang besar bagi Indonesia. Sehingga perlu ditanamkan kesadaran yang tinggi akan pentingnya pengajuan hak paten terutama pada masyarakat lokal yang memiliki kekayaan budaya yang memiliki nilai jual dan dapat di produksi secara masal.
Perlunya sosialisasi kepada masyarakat luas dengan menumbuhkan rasa budaya malu menggunakan produk-produk hasil pemalsuan dan bajakan, sosialisasi ini seharusnya diterapkan secara kontinyu untuk menimbulkan stimulus pada masyarakat sehingga pada akhirnya mereka akan sadar. Sesungguhnya pemalsuan dan pembajakan suatu produk atau trade mark memang tidak akan dapat diberangus secara total, tetapi setidak-tidaknya saat masyarakat telah sadar akan keaslian suatu barang dan faedahnya maka lambat laun pembajakan dan pemalsuan akan kehilangan pasar dan akan mati dengan sendirinya, sebab selama ini masyarakat merupakan konsumen dan ketika sang konsumen ini tidak lagi menggunakan barang hasil pemalsuan ataupun hasil bajakan maka para produsenpun akan kehilangan pasar. Tetapi harus diingat bahwa merebaknya pemalsuan dan pembajakan juga diakibatkan oleh keadaan ekonomi suatu negara, negara dengan pendapatan per kapitanya sangat kecil dan termasuk negara kategori miskin seperti di Indonesia, rentan terhadap kejahatan ini sebab pada mayoritas masyarakat, mereka membutuhkan barang atau produk dengan harga jual yang rendah atau murah tetapi masih bisa bergaya dengan merek terkenal dan inilah steorotip orang Indonesia, keinginan bergaya agar dipuji banyak orang , tidak peduli barang yang dipakai adalah barang imitasi. Disinilah peran pemerintah, dengan menggerakkan roda ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat akibatnya mereka bisa membeli barang orisinil tanpa perlu memakai barang tiruan.
Produsen penghasil barangpun seharusnya juga harus menyesuaikan nilai jual barangnya dengan kemampuan daya beli masyarakat Indonesia, terutama produsen barang dari luar negeri yang memakai patokan dollar atau mata uang asing lainnya. Akibat krisis yang berkepanjangan, mata uang rupiah terus terdepresiasi sampai 500 %, hal ini menimbulkan ketidakmampuan sebagian besar rakyat Indonesia membeli barang yang dipatok dengan kurs mata uang asing, sehingga mereka mengalihkan bidikan pengeluarannya dengan membeli barang-barang tiruan dan inilah yang terjadi sekarang ini di Indonesia. Seharusnya produsen tersebut lebih bijak dengan mengalihkan sebagian produksi untuk pangsa di Indonesia dengan memproduksi produknya di dalam negeri. Hal ini memberikan keuntungan ganda yaitu menambah lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia plus meningkatnya daya beli masyarakat dan harga jual produknya bisa ditekan lebih rendah lagi (sebab memakai bahan-bahan lokal) sehingga mampu dibeli oleh kebanyakan rakyat Indonesia.

Ciri Khas Usaha Tahan Banting

Posted on

Ciri Khas Usaha Tahan Banting

Awal dari keterpurukan
Krisis moneter membukakan kita semua, konglomerasi yang menjadi andalan struktur perekonomian Indonesia berguguran satu persatu dalam kebangkrutan, hancurnya perusahaan-perusahaan para konglomerat tersebut menyeret Indonesia pada krisis yang lebih dalam dan kompleks, krisis multidemensi. Kejatuhan rupiah sampai terdepresiasi menyentuh level 500 persen, Krisis sosial yang menimbulkan amuk massa dalam bulan Mei 1998 dengan klimaks mundurnya sang old man yang telah memimpin bangsa ini dengan tangan besi selama 32 tahun merupakan dampak dari ambruknya mega perusahaan yang melandasi perekonomian Indonesia. Selama 32 tahun masa kepemimpinan smiling general, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup fantastis bahkan diprediksi oleh visioner John Naissbitt akan menjadi macan baru perekonomian dunia, ternyata disusupi oleh penyakit ganas KKN yang diakibatkan oleh kepemimpinan yang salah dari sang presiden. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) begitu menggurita dan menyentuh hampir pada keseluruhan sendi-sendi kehidupan bangsa. Praktek-praktek KKN begitu jelas terlihat diterapkan oleh Bapak Pembangunan kita kepada keluarga dan konco-konconya. Dalam beberapa tahun, anak-anak Soeharto telah menjelma menjadi konglomerat dengan aset trilyunan rupiah, bisnisnya melingkupi hajat hidup orang banyak, dari monopoli jalan tol sampai penguasaan pengelolaan hutan. Bisnis keluarga presiden dan konco-konconya mulai tercium busuknya saat spekulan valas George Soros memprediksi kejatuhan perekonomian Indonesia yang sarat dengan KKN itu dengan menggoyang pasar uang rupiah, Soros melepas rupiah yang ditukar dengan US Dollar dalam jumlah yang melimpah dan ini diikuti oleh investor-investor lain yang jumlahnya ribuan di seantero dunia, rupiah mulai membanjiri pasar uang dan nilainya terus tertekan terhadap dollar, akibatnya rupiah memiliki stok yang cukup banyak dan sedikit investor malahan hampir tidak ada sama sekali investor uang yang memegang rupiah karena nilai rupiah yang semakin jatuh membuatnya tidak lagi likuid. Padahal disisi lain para konglomerat Indonesia harus mulai membayar utang dollarnya yang telah jatuh tempo dengan rupiah yang mereka hasilkan dari profit perusahaan, karena nilai rupiah terus melemah akibatnya nilai utangnya ketika dikonversikan ke rupiah menjadi lebih besar sampai beberapa kali lipat dari yang ditetapkan sebelumnya akibatnya para konglomerat kesulitan membayar utangnya sampai pada tingkat tidak lagi sanggup lagi membayari utang perusahaan- perusahannnya alias default artinya konglomerat tersebut berstatus pailit atau bangkrut.

Penyebab perubahan bentuk konglomerasi
Perekonomian yang didominasi oleh konglomerasi tidak lagi cocok dengan kondisi masyarakat dewasa ini.Revolusi mesin yang menyokong konglomerasi selama ini tidak lagi mempengaruhi pesatnya pertumbuhan ekonomi dunia, revolusi ini telah berada dalam fase majority atau keadaan jenuh. Revolusi yang telah berjalan hampir selama 3 abad akan digantikan oleh sutu revolusi lain yang lebih resisten terhadap dinamika perubahan dunia. Revolusi informasi diyakini sebagai pengganti revolusi sebelumnya, revolusi ini diawali dengan perubahan radikal dalam bidang komunikasi dan informasi dan internet bisa dijadikan contoh penggerak revolusi informasi. Internet membawa masyarakat dunia ke dalam dunia cyber, batas-batas negara seolah menghilang, saat menggunakan teknologi internet, jarak yang selama ini menjadi penghalang bagi kita untuk saling berkomunikasi, semakin tidak berarti lagi efeknya, kita seakan-akan berkomunikasi saling berhadapan padahal sesungguhnya komunikasi tersebut berjarak ribuan kilometer, itulah keajaiban dunia cyber, dunia maya. Revolusi informasi membawa dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat dunia, tradisi dan tatanan budaya manusia berubah banyak saat bersentuhan dengan revolusi ini, kebiasaan tradisional yang melandasi kebudayaan setempat mulai hilang digantikan dengan cara-cara modern yang diajarkan revolusi informasi.

Konglomerasi yang selama ini menjadi tren dunia untuk menguasai pasar, tidak lagi efektif untuk digunakan, dewasa ini banyak perusahaan besar berskala multinasional menggandeng partner-partner lokalnya untuk saling mengisi ceruk potensial bagi pasarnya, perusahaan ini tidak lagi menguasai seluruh pasar tapi membagi tugas dan bisnisnya dengan perusahaan-perusahaan lain, jadi ada semacam simbiosis mutualisme antara perusahaan besar dengan yang lainnya. Hal ini dilakukan agar produk yang dihasilkan dapat tetap kompetitif dengan menghindari dari over head yang tetap. Ini mencerminkan konglomerasi mengalami perubahan paradigma dalam berbisnis, mereka melakukan metamorfosa dalam kegiatan usahanya agar tetap survive dalam masa yang penuh tidakpastian ini, struktur organisasinya berubah menjadi struktur network artinya terjadi pemecahan perusahaan dengan hanya fokus pada jalur-jalur tertentu, adanya pembagian konsentrasi pada jalur pemrosesan, pendistribusian dan pemasaran produknya.

Model usaha berdaya tahan tinggi
Munculnya kecenderungan perusahaan raksasa berdaptasi dengan membagi-bagi perusahannya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil/ demerger menimbulkan suatu gagasan pada kita semua terutama yang berkeinginan menjadi seorang pengusaha atau yang tidak ingin bekerja di perusahaan lain bahwa perusahaan-perusahaan dimasa depan akan berukuran kecil dalam arti jumlah pegawai yang sedikit tapi efisien, tidak menempati area produksi yang luas dan besar, dengan standar pemberian upah menurut standar lokal/UMR serta memiliki jaringan/network yang luas dan menyebar menempati pangsa pasarnya masing-masing. Ukuran usaha yang kecil terbukti sekarang ini terutama di Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi terhadap gonjang-ganjing suatu negara sampai pada tahap paling buruk sekalipun, usaha kecil yang tersebar banyak ini membentuk suatu jaringan kuat satu sama lain sehingga menimbulkan ketergantungan yang saling menguntungkan, mampu bertahan dalam krisis yang paling hebat di Indonesia. Berbeda dengan perusahaan konglomerasi yang mengalami tekanan besar dan akhirnya kolaps akibat ketidakmampuan mereka dalam membayari pinjamannya sehingga dengan terpaksa utang-utangnya ditutupi dengan dijualnya aset yang dimiliki atau disita oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dari pelajaran berharga yang dialami pengusaha kelas kakap yang mengalami pailit, ternyata kebangkrutan mereka lebih disebabkan ketidakfokusan usaha yang mereka dirikan, tidak ada visi yang jelas dan fokus mengenai jenis usaha yang akan dikonsentrasikan. Keinginan untuk mendapatkan kuantitas dalam arti produksi yang besar dan masal tidak diiringi oleh efisiensi pada perusahaannnya akibatnya ketika bersaing dengan produk yang sejenis tidak lagi kompetitif kemudian diperparah dengan pinjaman dalam jumlah besar dalam mata uang dollar makin menekan dan memperburuk keadaannya saat kurs mata uang terdepresiasi begitu besar sehingga mereka tidak mampu mencicil utang plus bunganya yang telah membengkak beberapa kali lipat. Pengusaha kelas kakap terlalu bernafsu untuk mengembangkan unit usahanya menjadi lebih besar dan besar lagi sehingga mereka terlena dan lupa bahwa gelembung perusahannya makin lama akan makin rentan terhadap gangguan sekecil apapun juga dan hal itu memang terbukti, gelembung tersebut akhirnya meledak Saat perusahaan berekspansi, dibutuhkan modal baru utnuk menyokongnya dan sebagian besar pengusaha kakap ini meminjam pada bank atau investor asing melalui fund manager, konsekuensi meminjam dari pihak lain sangat besar sekali, biasanya ada persyaratan agunan atau jaminan aset yang dibutuhkan untuk mengcover pinjaman tadi sehingga ketika pengusaha tidak lagi mampu membayar utang yang dimiliki, aset yang dimilikinya menjadi hak penuh peminjam uang. Hal ini merupakan kerugian bagi pengusaha karena adanya keterikatan dan ketergantungan yang sangat kuat pada peminjam apalagi jika pinjaman tersebut ditambah dengan bunga yang sangat tinggi. Ketidakpastian bertambah besar pada pengusaha untuk mendapatkan kebebasan bergerak dan berusaha saat ia telah meminjam modal dengan mengagunkan aset-asetnya.
Usaha yang kita lakukan sebaiknya merupakan perusahaan yang menghasilkan sistem atau produk yang unik di pasaran, ini berarti pemain yang berkecimpung dalam menghasilkan produk ini masih sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Keuntungan dalam menciptakan produk yang sangat berbeda dengan yang lain adalah kurangnya kompetisi dari perusahaan lain sehingga porsi keuntungan yang kita dapatkan akan masuk semuanya menjadi keuntungan bagi perusahaan. Peluncuran produk baru dipasaran akan menimbulkan pangsa pasar baru di masyarakat yang berarti membuka peluang baru terhadap market potensial yang terjadi di masyarakat. Memang ada keraguan pada sebagian pengusaha untuk menjadi pionir yaitu ketakutan tidak diterimanya produk oleh pasar, maksudnya adalah produk yang dipasarkan dianggap oleh sebagian besar masyarakat terlalu mahal,tidak lagi mengikuti tren atau terlalu kuno dan tak praktis sehingga tidak menarik perhatian konsumen. Maka untuk menghindari atau setidak-tidaknya meminimalisasi penolakan konsumen terhadap produk yang dibuat adalah menggunakan metode survei atau riset untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan yang sedang in dalam masyarakat atau jika kita dibebani keuangan yang ketat, kita bisa melihat tolak ukur penerimaan masyarakat melalui produk-produk atau sistem yang sekarang ini, benar-benar mereka butuhkan dan perlukan, jadi kebutuhan dan keperluan masyarakat dari masa ke masa atau dari periode tertentu ke periode lainnya akan berlainan, hal ini bertalian dengan pendidikan dan kesadaran masyarakat itu sendiri. Produk yang unik berarti juga kita mencoba menggiring selera konsumen menuruti keinginan-keinginan kita, dalam hal ini produk yang kita hasilkan adalah suatu yang baru dan belum pernah ditemukan dalam masyarakat.

Usaha yang baik adalah usaha yang tumbuh dan berkembang dengan selalu menciptakan inovasi-inovasi tertentu, selalu timbul ide-ide kreatif dari inovator yang penuh dengan kesegaran daya ciptanya dan dimplementasikan menjadi suatu produk yang menghasilkan nilai kreativitas tinggi dan terobosan yang menjanjikan. Perusahaan akan terus bertahan dalam ketidakpastian saat ia mampu menelurkan ide-ide brilyannya menjadi suatu produk yang selalu diterima oleh pasar, tidak ada di dunia ini perusahaan yang sekian lama bertahan tanpa mengedepankan inovasi. Inovasi sangat diperlukan sebab output yang kaku tanpa adanya modifikasi menimbulkan kesan produk tersebut mudah kehilangan daya tarik modernnya serta menimbulkan kejenuhan pada sebagian masyarakat yang selalu aktif bergerak dengan dinamis. Apalagi, dewasa ini pertukaran informasi begitu pesatnya –salah satunya ditunjang dengan munculnya internet- memberikan pendidikan pada masyarakat bahwa selalu terjadi perubahan dari waktu ke waktu, informasi yang diterima oleh masyarakat seringkali mengisyaratkan perlunya inovasi-inovasi pada suatu perusahaan agar mampu mengimbangi perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat modern. Globalisasi juga memberikan dampak yang sangat dominan pada produk-produk berinovasi tinggi, produk ini akan mampu bertahan lebih lama dibanding dengan produk yang dihasilkan dengan teknologi dan kreatifitas yang tidak peka pada pergeseran nilai pada kebanyakan konsumen sebab pada banyak kasus, seringkali terjadi peniruan suatu model produk oleh kompetitor-kompetitor di seluruh dunia dengan maksud untuk mengekor kesuksesan produk tersebut, imitasi ini sah-sah saja sepanjang tidak melanggar pemegang hak paten dan ini terjadi di seluruh dunia setiap saat, setiap waktu. Tanpa adanya inovasi diibaratkan perusahaan tersebut sedang mulai menggali kuburan kebangkrutannya sendiri.

Pengajuan hak paten atas produk yang dihasilkan merupakan suatu langkah yang penting dan sangat bijak, produk dengan hak paten memberikan keuntungan kepada kita atas terjaminnya produk yang dihasilkan dari pemalsuan dan memberikan kekuatan hukum bagi kita saat munculnya tuntutan dari perusahaan lain atas keaslian produk yang kita hasilkan. Selain itu, adanya penggunaan produk kita oleh pihak lain melalui lisensi yang kita berikan menyumbangkan keuntungan bagi perusahaan sebab setiap produk yang berlisensi terjual oleh pihak lain, terdapat beberapa puluh persen hasil penjualan yang diperuntukkan bagi pemegang lisensi. Hak paten merupakan tabungan tambahan bagi pengusaha saat ia menjalankan roda usahanya sebab dengan begitu, adanya pengakuan dari pemerintah dan dunia usaha bagi pengusaha tersebut sebagai inovator sekaligus kreator serta yang paling penting adalah masuknya income tambahan atas penggunaan hak paten produk pengusaha tersebut oleh pihak lain.

Saat perusahaan yang dikelola mulai dalam masa tumbuh, biasanya telah didapat margin keuntungan dalam porsi yang besar diakibatkan dari pasar yang dikelola mulai menerima produk yang kita hasilkan, keuntungan perusahaan yang didapat sebaiknya digunakan untuk memelihara market dalam arti pada saat tersebut kita gencar mempromosikan produk yang kita hasilkan agar image mengenai produk tersebut tetap terjaga dan selalu diingat oleh konsumen. Promosi produk dapat dilakukan melalui berbagai media yang tersedia dalam masyarakat. Pemilihan media penyebar produk kita ini, didasarkan pada tingkat efektifitasnya dalam memepengaruhi konsumen, media audio visual merupakan media yang paling tinggi efektifitasnya, sebab dengan melaluinya indera konsumen terutama penglihatan dan pendengaran kedua-duanya terangsang secara langsung sehingga menimbulkan persepsi yang mendalam dan melekat pada ingatan mereka apalagi jika penyalurannya dilakukan berulang-ulang kali, persepsi yang dialami konsumen akan lebih mendalam, respon produk kita di benak mereka akan langsung teringat dan terucap saat mereka akan membeli kategori produk yang kita promosikan.

Kesimpulan
Dibutuhkan naluri yang cerdas untuk menangkap keinginan pasar dan kemampuan menganalisa dengan tepat setiap perubahan yang terjadi disekeliling kita terutama yang berkenaan dengan dinamika kegiatan ekonomi, naluri dan kemampuan ini merupakan keterampilan hasil pengolahan dan asahan pengalaman seseorang dalam menjalankan roda usahanya. Bakat menjadi seorang pengusaha hanya memerankan bagian kecil dari kesuksesan seorang pengusaha menjalankan usahanya, yang paling menentukan adalah sikap positif pengusaha tersebut dalam menanggapi dan memahami segala aspek yang rumit dan kompleks yang berkenaan dengan perjalanannya membangun dunia bisnis, yang semua itu hanya bisa diperoleh melalui pengalaman berproses.