Ritual

Kitaro Konser di Jakarta 7 April 2011

Posted on Updated on

Sang Maestro, Kitaro

Antara percaya dan tidak saat mendengar kabar ini dari salah seorang temanku. Masa penantianku tiba, Kitaro akhirnya mengunjungi Indonesia sang Maestro akan berkonser pada tanggal 7 April di Jakarta, Hip Hip Hurrraaa. Saya memimpikan Kitaro berkonser di Indonesia sejak masa kuliah, hampir semua album Kitaro saya koleksi tentu saja yang berformat mp3 (baca : bajakan, qeqeqee), saya terkesan dengan pemilihan instrumental yang digunakan dan genre musik yang diusungny yaitu New Age. Setiap lagu yg dibawakan seperti memberikan penjernihan bagi jiwa yang sarat dengan beban mental ini, qeqeqeeee.. Ah Kitaro akhirnya kau menjawab doaku selama ini, untung saja konsernya saat ini coba kalau misalnya sewaktu masa kuliah pasti saya akan kelimpungan cara membayar tiketnya, harga tiketnya cukup mahal berkisar dari 500 Ribu sampai yang termahal 4 Juta namun demi sang Maestro Instrumental saya Jabanin daaaahhh…qeqeee.. Tiket sudah ditangan, mudah2an bila tidak ada aral melintang 7 April saya akan berjumpa Sang Master Instrumental, Kitaro. Oh yah saya tautkan link untuk pemesanan tiketnya juga, mudah2an ada yg tertarik

Lupa pada Tujuan Awal

Posted on

the_long_road

Menjalani perjalanan di bumi ini adalah suatu anugerah, anugerah yang sangat besar yang mungkin suatu pencapaian tertinggi bagi para pejalan namun seiring waktu para pejalan sering melupakan tujuan awal berada di bumi ini. Banyak sekali perhentian di sepanjang perjalanan kita, masing-masing perhentian memberikan keindahannya masing-masing yang mampu membuat para pejalan menghentikan langkahnya kemudian menambah waktunya untuk memberikan perhatian tak lama kemudian menikmati perhentian tersebut, padahal perjalanan itu masih panjang dan berliku namun kita sudah berhenti untuk menikmati perhentian, atensi kita mulai beralih…..

Ketemu Alumni STTTelkom saat Kunjungan

Posted on Updated on

Minggu kemarin saya mendapat tugas tambahan mengunjungi tempat yang akan menjadi kandidat pemenang proses pelelangan yang kantor lakukan. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah kantor telekomunikasi plat merah terbesar di Indonesia, disana saya mengunjungi markasnya helpdesk untuk pelanggan corporate atau bahasa mereka dinamakan sebagai C4, seperti nama jenis bom plastik yachhh, saya bertemu dengan bos-nya C4 Pak Ngakan Nyoman Merta, biasa dipanggil dengan Pak Nyoman, beliau menceritakan kegiatan inti C4 dan saya ditunjukkan juga ruang monitoring jaringan khususnya untuk IP protokol, saya jadi bisa tahu berapa total bandwidth yang digunakan perusahaan plat merah ini ke gerbang internet internasional, tapi itu rahasia looo…saya tidak bisa mempublikasikannya. Yang tidak saya sangka adalah ternyata Pa Nyoman adalah lulusan STTTelkom angkatan 1991, berarti beliau termasuk angkatan pionir di STTTelkom.

Kunjungan kedua saya menemui Account Manager perusahaan seluler yang sekarang milik TM, dan tak dinyana ternyata AM yang saya temui adalah alumni STTTelkom angkatan 1997 , jurusan TI, wah kalau perusahaannya jadi pemenang, kantor saya bisa dapat discount gede nich buwt link internetnya, mosok sesama alumni ngga ada discount tambahan……becanda deng hehehehee…..bisnis sich bisnis urusan alumni mah urusan yang lain :D.

Kunjungan ketiga saya berkunjung ke Gandul, jadi inget sinetronnya si doel anak sekolahan, disana merupakan mabesnya anak perusahaan listrik yang punya potensi penetrasi sangat besar di jaringan optik, kalau di indonesia ada FTTH maka perusahaan ini yang punya potensi terbesar untuk menggelarnya, bagaimana tidak tiang listriknya sudah sangat dekat dengan pelanggannya. Di perusahaan ini saya tahu ada alumni STTTelkom yang bekerja disini karena kita sama-sama satu angkatan bahkan satu kelas namun ternyata kedua teman saya sedang ada tugas di luar kantor, dan yang tak disangka ada teman alumni lain yang saya baru ngeh ternyata saya tahunya dari Blog agregatnya IKAST3, soalnya dia cerita tentang kelulusannya CCNA dan kegiatan remedinya yang sukses…ayo tebak siapa namanya…..

Ternyata kunjungan kemarin berbuah silaturahmi, saya bisa berkenalan dengan para alumni STTTelkom yang belum saya ketahui, saya merasa bangga atas kontribusinya untuk kemajuan telekomunikasi dan komunikasi data di Indonesia. Ayoooooo Maju Terussssssssssssssssssss Alumni STTTELKOM……………………………………..

Kuantum Spiritual Quotient : Cara Praktis Menggapai SQ Tinggi (2)

Posted on Updated on

Ego Menghalangi Pencapaian Kecerdasan Spiritual

Ego berasal dari pikiran yang terkondisi yaitu ingatan yang terekam dalam alam bawah sadar yang didasari oleh keinginan untuk terus merasa nyaman dan aman, bila kita dihadapi oleh suatu keadaan maka ego ini akan memberikan sinyal terhadap masalah yang dihadapinya, ego akan bertindak sesuai dengan memori yang tercatat dalam bawah sadarnya, ia akan memutuskan apakah hal tersebut membuat nyaman atau tidak, bila itu tidak memberikan keamanan maka ego akan bereaksi dengan mengirimkan tanda agar kita menjauh. Contoh ego adalah takut, bukan rasa takut yang diakibatkan oleh keadaan fisik yang memang harus menimbulkan rasa tidak aman misalnya saat menemui ular berbisa tetapi keadaan psikis yang membuat hati kita menjadi khawatir. Ketakutan akan masa depan, khawatir dengan karirnya sekarang, kengerian kehilangan kekuasaan yang dipegangnya adalah contoh takut yang diakibatkan oleh ego kita. Ketika ego ini muncul, maka cenderung manusia mengalihkannya ke persoalan lain dengan tujuan agar perasaan ini segera hilang, memang untuk sementara waktu rasa tersebut akan terpinggirkan tetapi tidak akan hilang seperti ingin menghilangkan rasa pusing akibat kanker dengan menelan obat rasa sakit kepala. Kita menghilangkan akibat rasa sakitnya tapi tidak sumber yang menimbulkan sakit. Manusia cenderung mengalihkan egonya dengan rasa yang menimbulkan kesenangan, baginya pengalihan ini adalah obat mujarab padahal sesungguhnya mengalihkan ego ini adalah membentuk ego baru dengan rasa yang lain, alih-alih ingin menghilangkan rasa takut malah menimbun ego baru yang menambah gundukan ego yang telah ada. Jika rasa sakit tersebut ingin dihilangkan, seharusnya kita harus menghadapi rasa ego kita dengan berani, kita harus memandang ego tersebut secara holistik tidak lagi parsial, tidak hanya memikirkan eksesnya tapi melihat sumbernya secara langsung, jelas dengan penuh konsentrasi. Dengan kesadaran tinggi kita harus memandang ego apa adanya, dengan begitu kita bisa secara sadar mengetahui asal-usul ego sebenarnya, dan masing-masing individual harus merenungkannya sendiri-sendiri, kita tidak bisa menggeneralisasikan keadaan ego satu orang akan sama dengan yang lainnya, dengan penuh kehati-hatian seorang individu seharusnya menelusuri benang kusut yang terjadi pada dirinya dan saat ia menemukan simpul atau jawaban atas kekisruhan yang menimpanya, metodenya tidak bisa diterapkan kepada orang lain begitu saja, seseorang harus mencari caranya sendiri untuk mendapatkan jawaban. Namun ada kesamaan titik temu pada setiap orang yaitu ego secara keseluruhan bersumber pada kesenangan pribadi, keinginan untuk selalu memenuhi rasa senang pada dirinya atau dengan kata lain dengan menghindari sekecil mungkin dirinya terluka akibat tidak terpenuhi oleh rasa senang. Hal tersebut terjadi umumnya manusia, setelah mendapat kesenangan –dan ini tidaklah salah-, otak akan merekam manisnya perasaan tersebut. Yang menjadi keliru adalah, saat kesenangan itu berakhir –akan selalu berakhir, sebab dunia selalu berubah mengikuti roda kehidupan- maka memori yang telah tertanam di otak kita, meminta mengulang kesenangan-kesenangan yang dirasakan, akibatnya kita menjadi ketagihan dan teracuni menginginkan kesenangan-kesenangan yang dulu dirasakan, dialami kembali saat ini. Ketika kita tidak menemukan kesenangan yang kita inginkan, maka ego akan berulah dengan memberikan sinyal kekhawatiran dan ketakutan. Ego hidup dengan makanan berupa kesenangan-kesenangan yang telah terekam didalam otak dan dosisnya semakin lama-semakin besar mirip dengan seorang yang telah kecanduan narkotika, ego akan semakin tumbuh gemuk ketika ia diberi makanan ini, ia akan menutupi diri sejati kita yang sebenarnya hingga suatu saat kita menyangka bahwa diri kita adalah kekuasaan yang kita pegang, kehormatan yang diperoleh, harga diri yang diberikan orang-orang sekitar, tubuh kita yang dianggap indah. Dan ketika semuanya itu terenggut dari genggaman kita, kita merasa tidak ada, malu, tidak berharga dan terhempas seperti onggokan sampah. Ekses yang diakibatkan bila mengidentikkan dengan ego kita begitu dahsyatnya, dan kebanyakan manusia terjebak dalam putaran yang menyesatkan ini. Kerusakan bumi berupa kelaparan, peperangan, hancurnya lingkungan hidup berawal dari mengidentikkan diri dengan ego. Peperangan yang mengatasnamakan bangsaku, agamaku, negaraku dan ku-ku lainnya adalah bukti nyata betapa ego yang dikedepankan sebagai solusi pemecahan masalah, malah menimbulkan kehancuran manusia. Seseorang yang mengalami konflik dalam dirinya berupa kemarahan, iri hati, kebencian, kekhawatiran dan ketakutan merupakan bukti yang paling dekat dan umum dialami manusia bila melulu mengagungkan kesenangan-kesenangan pribadinya. Merasakan rasa senang -bedakan dengan gembira dan bahagia- yang merupakan ingatan mekanis yang terekam kuat dalam otak seseorang akan mengundang penderitaan bagi dirinya. Rasa senang dan penderitaan adalah dualitas yang berlaku di dunia fisik ini, dualitas selalu mengikuti hukum alam ; baik-buruk, malam-siang, panas-dingin adalah rangkaian implementasi dari hukum ini. Dualitas selalu mencari pasangannya dan egolah yang memisahkan dualitas ini, “aku suka rasa senang , aku tidak mau penderitaan” begitulah jeritan sang ego ketika ia mulai memilah-milah dualitas. Sang ego menginginkan rasa suka yang kekal dan tidak akan betah mendapatkan pasangan rasanya. Saat ego mulai memilah-milah maka manusia terperangkap konflik dan pertikaian dalam dirinya, manusia tidak bisa lagi selaras lagi dengan alam, mengalami depresi berat, denyut kehidupannya tidak lagi sinkron dengan getaran alam yang harmonis. Ia akan berada dalam satu dunia, dunia aku –dunia ego- yang membentenginya dari kehidupan yang bebas lepas. Benteng ego ini begitu halus dan transparan sampai-sampai manusia yang terperangkap didalamnya tidak menyadarinya, ia masih menjalani hidup tapi bukan diri sejatinya yang hidup egonyalah yang berkuasa. Gembira atau bahagia adalah berbeda sama sekali dengan senang, manusia dalam bahagia dan gembira adalah manusia sebenar-benarnya, manusia yang tidak lagi terikat akan kecanduan rasa senang, ia bebas menari-nari dengan lenturnya, baginya kemiskinan sama indahnya dengan kemakmuran, keterpurukan tiada bedanya dengan kemasyuran, sang ego telah hilang dalam dirinya hingga ia tidak lagi terjerumus dalam konflik, ia telah bebas dari candunya, terbang seperti Elang di keemasan cahaya matahari, dualitas telah ia lampaui.

Kuantum Spiritual Quotient : Cara Praktis Menggapai SQ Tinggi (1)

Posted on Updated on

Spiritual Quotient Sebagai Kecerdasan Tertinggi

Setiap mahluk ciptaan Tuhan dianugerahi suatu kecerdasan, biasanya kecerdasan yang dimiliki oleh semua mahluk yang hidup dibumi ini adalah kecerdasan untuk tetap bertahan hidup, cara bagaimana seorang mahluk serta generasinya agar dapat terus survive dengan melakukan adaptasi dan evolusi. Rasa aman adalah implementasi dari kecerdasan primitif ini, terhindar dari bahaya yang berupa pemangsa maupun kekejaman alam merupakan akibat dari penggunaan quotient. Semakin tinggi tingkat kerumitan suatu mahluk diciptakan maka anugerah kecerdasan yang diberikan Tuhan juga semakin tinggi, dan manusialah mahluk yang diciptakan dengan kecerdasan yang paling tinggi, jika dilihat dari fisik otak , kemampuan otak manusia meliputi kecerdasan reptil atau batang otak, kecerdasan mamalia atau sistem limbik dan kecerdasan manusia atau neokortek yang membedakan dengan mahluk lainnya.
Fungsi dari batang otak atau otak reptil adalah perilaku yang berkaitan dengan insting untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies dengan memperhatikan pada ketersediaan makanan, tempat tinggal dan keberlangsungan reproduksi. Keaadaan bahaya atau gawat membangkitkan otak reptil untuk memutuskan menghadapinya atau menghindarinya. Disekeliling otak reptil terdapat sistem limbik yang cukup luas dan kompleks, sistem limbik dimiliki seluruhnya oleh hewan mamalia, fungsinya menyimpan emosi dan bersifat kognitif, sistem limbik menyimpan perasaan, pengalaman, memori dan kemampuan belajar pada mamalia. Sistem limbik merupakan panel kontrol utama menggunakan informasi yang disampaikan oleh panca indera manusia, kemudian informasi ini disampaikan ke bagian neokortek yang terbungkus di sekitar bagian atas dan sisi-sisi sistem limbik, fungsi bagian ini adalah mengatur pesan-pesan yang disampaikan oleh sistem limbik yang dapat berupa penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan dan lain-lain. Jadi sebenarnya yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah adanya neokortek dan disinilah kecerdasan manusia : IQ, EQ dan SQ berasal.
Pada mulanya, kecerdasan manusia hanya diukur dari tingkat kecerdasan intelektualnya atau IQ, IQ seorang manusia dapat ditempatkan pada tingkat-tingkat tertentu ; dibawah rata-rata, rata-rata, diatas rata-rata dan genius. Pemeringkatan ini berdasarkan hasil tes yang dilakukan saat, seseorang menyelesaikan suatu uji IQ. Ketika orang tersebut menganggap serius tes yang akan dihadapinya, akan mendapatkan hasil yang berbeda saat orang tersebut menganggap uji IQ sebagai suatu permainan belaka, karena ternyata tingkat emosi seseorang juga berpengaruh besar pada hasil uji tersebut. Dalam keadaan tertekan membuat seseorang cenderung mendapatkan hasil IQ yang lebih rendah dibandingkan jika ia menganggap tes IQ hanya main-main. Dari hasil pengamatan ini, ternyata IQ bukanlah satu-satunya patokan mengukur kecerdasan manusia, ada kecerdasan lain yang juga mempengaruhi. Kemudian timbulah konsep kecerdasan emosional atau EQ yaitu kecerdasan yang muncul dan dipengaruhi oleh nilai perasaan dan emosi kita, dan hal yang lebih mencengangkan adalah kecerdasan emosional ternyata lebih mendominasi dan mempengaruhi kehidupan manusia dibandingkan kecerdasan intelektual. Dari hasil riset yang dilakukan oleh para ahli psikologi didapat bukti ilmiah : keberhasilan hidup seseorang yang diukur dari tingkat kesuksesan dan kekayaan ternyata disebabkan oleh tingkat EQ orang tersebut, bukan dari kecerdasan intelektualnya. Kecerdasan intelektual hanya menjadi pengantar bagi keberhasilan seseorang yang lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya. Jadi orang yang memiliki IQ tinggi belum menjamin keberhasilan orang tersebut, bisa jadi di bagian pendidikan formal seperti sekolah, ia akan mendapatkan kesuksesan sebab pendidikan formal cenderung memberi porsi yang lebih besar untuk kecerdasan intelektual tetapi ketika ia memasuki dunia kerja, tempat orang tersebut harus berinteraksi dengan orang lain, pengaruh kecerdasan emosional akan lebih dominan. Biasanya orang yang memiliki IQ tinggi cenderung egois sehingga sukar diajak kerja sama maka orang tersebut akan mendapatkan kesukaran saat menghadapi dunia kerja yang lebih membutuhkan team work dibanding kerja individual. Orang dengan IQ cukup tinggi sulit untuk beradaptasi dengan dunia yang tidak sesuai dengan pandangannya, berbeda dengan individu yang berEQ tinggi, individu ini mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan kerja apapun karena memiliki kemampuan yang lebih dalam menghargai dan bekerja sama dengan yang lain.
Namun ketika orang tersebut dalam puncak kesuksesan dan keberhasilan, bergelimang dengan harta, prestasi dan penghargaan, akan muncul suatu titik balik berupa rasa jenuh dan bosan. Orang tersebut akan menanyakan kembali pada dirinya, apakah hal semua itu perlu bagi dirinya ? mengapa kesuksesan dan keberhasilan, tidak membuat hatinya bahagia ? okelah ketika seseorang mendapatkan prestasi tinggi misalnya dianugerahi Nobel, dia disambut dan dipuja-puja seluruh dunia, saat itu perasaannya dipenuhi oleh rasa senang tetapi untuk berapa lama rasa gembira itu akan hinggap didalam dirinya, dia akan kembli jatuh pada perasaan jenuh karena semua yang diinginkan dan dicita-citakan telah terwujud semuanya, dan menyangka bahwa dengan mencapainya akan memberikan rasa bahagia abadi, tetapi apa yang terjadi ternyata hanya rasa kehampaan yang didapatnya. Dunia serasa berhenti, vitalitas yang dimilikinya semakin hilang dan jika ia tidak memiliki kecerdasan lain ia akan terperosok pada jurang kehampaan yang penuh dengan perasaan depresi. Maka agar kita bisa memaknai hidup ini, saat suatu keberhasilan digapai dan mampu melihat keberhasilan tersebut sebagai suatu proses bukan tujuan hidupnya, diperlukan suatu kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual atau SQ. Didalam otak manusia terdapat suatu titik yang dinamakan god spot, titik ini berhubungan dengan keyakinan kita akan keberadaan tuhan dan dalam god spot bersemayamlah kecerdasan spiritual atau SQ. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi dapat dilihat dari perilaku kehidupannya yang selalu dipenuhi oleh rasa kebahagiaan dan kegembiraan, ia memandang sekelilingnya bukan sebagai sesuatu yang perlu ditaklukan demi keberhasilannya tetapi lebih sebagai suatu ciptaan yang perlu disyukuri keberadaannya, rasa ego atau ke-aku-annya telah melebur hilang digantikan dengan rasa kebersamaan yang muncul setiap saat. Ia tidak lagi menghiraukan apa yang telah menjadi miliknya dan bukan miliknya, tidak lagi memikirkan mendapatkan apa yang belum ia miliki sebab semuanya yang ada disekelilingnya telah ia miliki. Ia tidak lagi terjebak dalam rasa penyesalannya terhadap masalah di masa lalu, tidak lagi mengkhawatirkan kehidupan di masa depan, tidak lagi terbebani oleh rasa khawatir, takut dan penyesalan tetapi hidup di masa sekarang, saat ini dengan indah dan apa adanya. Hal yang selalu dilakukan oleh orang dengan kecerdasan spiritual tinggi adalah mensyukuri apapun yang ia peroleh ; kegagalan, keberhasilan, sanjungan, makian, penghinaan. Ia telah mendapatkan kedamaian didalam dirinya yang memancar menyebar ke sekelilingnya memberikan rasa kasih sayang bagi semuanya. Seperti bunga yang menyebarkan keharuman bagi dunianya atau seperti matahari yang memancarkan sinar kehidupan, sang bunga dan matahari tidak pernah meminta balas jasa atas apa yang ia berikan, ia hanya memberi dan memberi.
Kita sebagai mahluk yang diciptakan oleh Tuhan paling mulia, ternyata diberikan anugerah yang begitu besarnya. Kemampuan kita sebagai manusia melebihi apa yang dimiliki mahluk lainnya, apalagi kecerdasan yang kita miliki mampu membuat kita menjadi seorang manusia dalam arti sebenarnya. Kita bisa menggapai suatu kecerdasan yang membuat kita menjadi bahagia bila mengetahui password untuk membukanya. Proses untuk mendapatkan kecerdasan ini adalah perjalanan mengenal dirinya sendiri, suatu safari agung menembus bayang-bayang dan topeng-topeng yang kita anggap selama ini sebagai diri yang sejati. Topeng tersebut sepertinya melekat kuat sehingga seakan-akan kita selalu diidentikkan dengan topeng yang kita pakai, topeng itu adalah ego kita, rasa ke-akua-an yang kita miliki menutupi sinar cemerlangnya diri sejati. Ego membuat kita tergantung terhadap apa yang orang lain pandang, kita menjadi begitu malu saat, pakaian yang kita kenakan dikatakan tidak sesuai dengan tubuh , kita menjadi marah saat seseorang mencela, menghina dan memaki kita. Ego menjadikan sesuatu sebagai yang disukai atau yang tidak disukai, ego cenderung untuk melampiaskan keinginan-keinginan kita, memberikan makanan-makanan yang lezat bagi nafsu dan hasrat.

Perjalanan Pagi

Posted on

Allow Semua,
Saya bekerja di sebuah lembaga pemerintahan, kantor tempat saya bekerja tidak jauh dengan kantor resmi RI 1, di sekitaran Harmoni, tepatnya di Jl Ir. H. Juanda. Pasti banyak yang mengira daerah tinggalku, tepatnya kos-anku, di daerah Juanda juga. Sebenarny tempat tinggalku cukup jauh dari Harmoni, mau tahu dimana ???? DI daerah Warung Buncit..Yuppp disanalah saya bermalam. Jauh donnggg ??? emangg… Jadi tiap hari aku berpindah dari Jakarta sebelah Selatan ke Jakarta dekat ama Utara. Saban hari aku melewati daerah Bundaran HI.. Monumen Nasional..Museum Nasional.
Karena tidak memiliki kendaraan pribadi (baca: motor ditinggal di Bandung) maka setiap hari saya menggunakan Angkot ( sebutan keren “public transportation” khas urang Bandung)= Angkutan Kota. Angkot andalan saya adalah Kopaja P20, Kopaja jurusan : Lebak Bulus-Senen, rute pp (pulang-pergi) yang dilalui kopaja ini adalah Lebak Bulus – Cilandak – Ragunan – Warung Buncit – Mampang – Kuningan – Menteng – Gambir – Senen. Naik kopaja ini hanya beberapa puluh meter dari kos-an, kebetulan kos tidak jauh dari Jalan Raya Warung Buncit.
Beruntungnya lagi tiap pagi P20 banyak yang masih kosong tempat duduknya, mengapa ?? karena banyak P20 yang baru keluar Pol memutar di jalan yang tidak jauh dari tempat tinggal saya, lumayan jadi tidak perlu berdiri dan berdesakan, langsung dapat tempat, duduk yang manis kadang2 dengan posisi meditasi merem-merem ngantuk. heheheeheee……
Kantor saya di Harmoni, tidak langsung dijangkau oleh kopaja ini, jadi untuk meneruskan ritual perjalanan ngantor dilanjutkan dengan turun di daerah perempatan Kuningan-Imam Bonjol. Dari sana saya menunggu Angkot lainnya yaitu Bis Patas P47 jurusan Kampung Rambutan – Senen, Bis Fully AC padahal lebih tepatnya fully angin…heheehe tapi lumayanlah rada dingin..angin cepoi-cepoi. Nah bis inilah yang mengantarkan saya tepat di depan kantor Ir. Juanda 36, bis ini biasanya tidak cukup ramai soalnya kebanyakan para penumpang sudah turun di daerah Kuningan, jadi penumpang yang tersisa tinggal untuk tujuan daerah Thamrin, Medan Merdeka (Monas), Juanda, Pasar Baru dan Senen saja.
Oh ya.. tarif cukup murah meriah, untuk perjalanan ini saya menghabiskan uang sekitar 5  ribu rupiah, 2 ribu dihabiskan untuk Kopaja P20 dan Rp 3 ribu untuk ongkos patas P47. Ceritanya masih ada lanjutannya, masih membicarakan perjalanan pagi tapi dengan alternatif rute lainnya namun sekitar 90 % dari setiap perjalanan pagi saya ditempuh melalui jalur ini P20 dan P47