Spiritualitas

Kitaro Konser di Jakarta 7 April 2011

Posted on Updated on

Sang Maestro, Kitaro

Antara percaya dan tidak saat mendengar kabar ini dari salah seorang temanku. Masa penantianku tiba, Kitaro akhirnya mengunjungi Indonesia sang Maestro akan berkonser pada tanggal 7 April di Jakarta, Hip Hip Hurrraaa. Saya memimpikan Kitaro berkonser di Indonesia sejak masa kuliah, hampir semua album Kitaro saya koleksi tentu saja yang berformat mp3 (baca : bajakan, qeqeqee), saya terkesan dengan pemilihan instrumental yang digunakan dan genre musik yang diusungny yaitu New Age. Setiap lagu yg dibawakan seperti memberikan penjernihan bagi jiwa yang sarat dengan beban mental ini, qeqeqeeee.. Ah Kitaro akhirnya kau menjawab doaku selama ini, untung saja konsernya saat ini coba kalau misalnya sewaktu masa kuliah pasti saya akan kelimpungan cara membayar tiketnya, harga tiketnya cukup mahal berkisar dari 500 Ribu sampai yang termahal 4 Juta namun demi sang Maestro Instrumental saya Jabanin daaaahhh…qeqeee.. Tiket sudah ditangan, mudah2an bila tidak ada aral melintang 7 April saya akan berjumpa Sang Master Instrumental, Kitaro. Oh yah saya tautkan link untuk pemesanan tiketnya juga, mudah2an ada yg tertarik

Melampaui

Posted on

Perjalanan di alam ini tidaklah begitu   saja

Ada saatnya kita mengalami naik turun

Seperti roda kehidupan kadang di bawah kadang diatas

Terus kita alami…..

Owwww…jikalau kita melampaui perasaan ini

Melampauinya sehingga kita tidak peduli

Apakah  merasa ada dibawah atau diatas

Merespon sama baiknya saat berada di puncak maupun di Lembah

Melampaui segalanya

Sehingga kita menyadari

ini hanyalah perjalanan

Pulang ke tempat asal kita

Yang selalu dirindukan Sang Sejati diri

Owwww…indahnya

Pernahkah……

Posted on

Pernahkah kita melihat ke belakang…..
Mengamati apa yang kita telah perbuat….
Menyesali apa yang telah kita lakukan….

Pernahkah kita memandang ke depan
Mengamati apa yang kan kita lakukan
mengkhawatiri jadi apakah kita di masa depan

Pernahkah kita mengamati kita saat ini
Menikmati betapa agungny saat ini
Betapa berartinya saat ini

Kembali menulis….

Posted on

Lebih dari 3 bulan lamanya saya tidak lagi mengisi blog ini, ternyata menulis bukan perhatian utama saya, sedih yachhh…menulis bukan menjadi prioritas . Entah kapan menulis apapun menjadi fokus utama saya, seperti membaca khususnya surat kabar, saya akan merasa ada yang hilang, mirip dengan rasa lapar, bila belum membaca surat kabar di pagi hari. Mungkinkah menulis akan menerbitkan rasa lapar saya layaknya membaca..entahlah hanya Tuhan dan saya yang tahu.

Banyak hal yang telah saya lalui dalam 4 bulan ini ( Juli- Oktober), diawali dengan kunjungan ke pusat pelatihan salah satu vendor yang mendukung jaringan di kantor saya dan yang paling gres membantu boyongan pindah kantor ke gedung yang baru, membantu ini dalam arti kata menjaga network kantor jangan sampai down terlalu lama saat pindahan kantor. Diantara keduanya banyak kegiatan yang saya alami, yang kadang membuat saya untuk terus berdoa mendamaikan hati. saya mengalami perjalanan yang begitu berat dan sulit, pengembaraan hati yang membuat saya kadang berpikir apakah ini anugerah Tuhan atau rachmat Tuhan, apakah saya telah memulai menghasilkan karma yang telah saya sebar…entahlah.. yang saya bisa lakukan hanya terus berdoa memohon ampunan yang Maha Kuasa. Melupakan masa lalu dan hanya hidup di masa ini saat ini adalah hal yang lebih baik . Melupakan beban masa lalu yang selalu saya pikul merupakan indahnya hidup saat ini. Saya masih belajar…belajar..dan belajar melihat ke dalam..memahami diri saya sendiri…memahami saya apa adanya.

Terimakasih Tuhan engkau selalu memberi saya kesempatan untuk memahami..walapun saya kadang bahkan sering melupakan kehadiranMU.maafkan kealpaan saya…maafkan saya yang penuh diliputi ego-ego. Tuhan mudah2an pengembaraan ini menjadikan aku bisa bertemu denganMU

Pernahkah berhenti Sejenak

Posted on

Pernahkah Berhenti Sejenak…Menarik nafas dalam2….tidak berpikir apa2.dan tiba2 keheningan datang…hening yang sangat hening..damai yang begitu damai..kesunyian meresap keseluruh tubuh…tubuh bereaksi damai….bereaksi indah…bereaksi accchhhhh. dan ..dan.. diri mulai menangis……meresapi begitu indahnya hidup ini..owwww..tiada terkira begitu besarnya anugerah tuhan..hanya bisa mengucapkan terimakasih…terimakasih dan berterimaksih….betapa beruntungnya…dipenuhi rasa cinta…rasa kasih..rasa woowwww…walau tidak pernah memiliki dan dimiliki oleh apapun…bebas lepas….cintaa..cintaa..cintaa..damaaiii…damaaiii.damaaaiiii

Kuantum Spiritual Quotient : Cara Praktis Menggapai SQ Tinggi (3)

Posted on

Meditasi Suatu Jalan Menuju Pencerahan

Meditasi adalah jalan yang bisa seseorang tempuh agar ia bisa mengenali ego dalam dirinya sekaligus membebaskan darinya, hingga mampu melampaui dualitas. Suatu perjalanan menembus bayang-bayang diri, yang selama ini memperkeruh dan menghalangi sang diri sejati . Meditasi memberikan refleksi yang mampu menggugah dirinya mencapai eksistensi sebenarnya. Meditasi bukanlah pemusatan konsentrasi tapi meditasi dapat diawali dengannya, tujuannya adalah menenangkan benak yang bergejolak, benak kita tidaklah bisa tenang sebab kita tidak pernah melatihnya. Benak sering kita biarkan untuk memikirkan ini-itu karena kita tidak ingin dianggap bodoh oleh orang lain, dengan mengistirahatkannya. Jadi kita membentuk benak bak belalang, meloncat kesana kemari, menguras energi dan perhatian untuk masalah sepele diluar diri kita, hal itu membuat kita kehilangan untuk menggali sumber-sumber yang lebih dalam dan kreatif dalam kehidupan diri kita. Dengan melakukan meditasi yang semakin intens, benak yang menggelak-legak bisa ditenangkan dan aktivitasnya yang semula terpecah-belah akan mampu kita kendalikan menuju satu titik fokus tujuan meditasi kita yaitu mengenal sang ego dan juga diri sejati kita. Perjuangan dengan meditasi ini, tidak bisa dengan cara instan dan serba cepat tapi penuh tantangan dan hambatan, kita akan mengarungi suatu masa, waktu kegamangan dan kejemuan, yaitu keadaan skeptis terhadap jalan yang kita tempuh, namun dengan semangat yang terus diperbaharui dan menyegarkan karena meditasi rutin kita itu, keadaan ini perlahan-lahan mampu kita singkirkan. Saat tantangan dan hambatan satu demi satu menyerah karena kegigihan kita, maka kita mulai bisa menuai apa yang kita tanam seperti kesehatan kita akan semakin baik, rasa marah, bingung dan khawatir tidak lagi mendominasi benak kita dan sang ego telah menjadi bayangan yang semakin menciut ukuran dan beratnya. Dengan meditasi akanlah sampai kita pada suatu titik, yang para ahli mistik menggambarkannya sebagai kebahagiaan yang tumpah ruah bertemu dengan sang diri sejati dalam diri kita sendiri. Pencapaian tertinggi seorang manusia sejati, pencerahan dalam dirinya, suatu kecerdasan spiritual dengan tingkat fantastis yang tak dapat terukur oleh bilangan angka, melampaui semua nilai yang ada.

Kuantum Spiritual Quotient : Cara Praktis Menggapai SQ Tinggi (2)

Posted on Updated on

Ego Menghalangi Pencapaian Kecerdasan Spiritual

Ego berasal dari pikiran yang terkondisi yaitu ingatan yang terekam dalam alam bawah sadar yang didasari oleh keinginan untuk terus merasa nyaman dan aman, bila kita dihadapi oleh suatu keadaan maka ego ini akan memberikan sinyal terhadap masalah yang dihadapinya, ego akan bertindak sesuai dengan memori yang tercatat dalam bawah sadarnya, ia akan memutuskan apakah hal tersebut membuat nyaman atau tidak, bila itu tidak memberikan keamanan maka ego akan bereaksi dengan mengirimkan tanda agar kita menjauh. Contoh ego adalah takut, bukan rasa takut yang diakibatkan oleh keadaan fisik yang memang harus menimbulkan rasa tidak aman misalnya saat menemui ular berbisa tetapi keadaan psikis yang membuat hati kita menjadi khawatir. Ketakutan akan masa depan, khawatir dengan karirnya sekarang, kengerian kehilangan kekuasaan yang dipegangnya adalah contoh takut yang diakibatkan oleh ego kita. Ketika ego ini muncul, maka cenderung manusia mengalihkannya ke persoalan lain dengan tujuan agar perasaan ini segera hilang, memang untuk sementara waktu rasa tersebut akan terpinggirkan tetapi tidak akan hilang seperti ingin menghilangkan rasa pusing akibat kanker dengan menelan obat rasa sakit kepala. Kita menghilangkan akibat rasa sakitnya tapi tidak sumber yang menimbulkan sakit. Manusia cenderung mengalihkan egonya dengan rasa yang menimbulkan kesenangan, baginya pengalihan ini adalah obat mujarab padahal sesungguhnya mengalihkan ego ini adalah membentuk ego baru dengan rasa yang lain, alih-alih ingin menghilangkan rasa takut malah menimbun ego baru yang menambah gundukan ego yang telah ada. Jika rasa sakit tersebut ingin dihilangkan, seharusnya kita harus menghadapi rasa ego kita dengan berani, kita harus memandang ego tersebut secara holistik tidak lagi parsial, tidak hanya memikirkan eksesnya tapi melihat sumbernya secara langsung, jelas dengan penuh konsentrasi. Dengan kesadaran tinggi kita harus memandang ego apa adanya, dengan begitu kita bisa secara sadar mengetahui asal-usul ego sebenarnya, dan masing-masing individual harus merenungkannya sendiri-sendiri, kita tidak bisa menggeneralisasikan keadaan ego satu orang akan sama dengan yang lainnya, dengan penuh kehati-hatian seorang individu seharusnya menelusuri benang kusut yang terjadi pada dirinya dan saat ia menemukan simpul atau jawaban atas kekisruhan yang menimpanya, metodenya tidak bisa diterapkan kepada orang lain begitu saja, seseorang harus mencari caranya sendiri untuk mendapatkan jawaban. Namun ada kesamaan titik temu pada setiap orang yaitu ego secara keseluruhan bersumber pada kesenangan pribadi, keinginan untuk selalu memenuhi rasa senang pada dirinya atau dengan kata lain dengan menghindari sekecil mungkin dirinya terluka akibat tidak terpenuhi oleh rasa senang. Hal tersebut terjadi umumnya manusia, setelah mendapat kesenangan –dan ini tidaklah salah-, otak akan merekam manisnya perasaan tersebut. Yang menjadi keliru adalah, saat kesenangan itu berakhir –akan selalu berakhir, sebab dunia selalu berubah mengikuti roda kehidupan- maka memori yang telah tertanam di otak kita, meminta mengulang kesenangan-kesenangan yang dirasakan, akibatnya kita menjadi ketagihan dan teracuni menginginkan kesenangan-kesenangan yang dulu dirasakan, dialami kembali saat ini. Ketika kita tidak menemukan kesenangan yang kita inginkan, maka ego akan berulah dengan memberikan sinyal kekhawatiran dan ketakutan. Ego hidup dengan makanan berupa kesenangan-kesenangan yang telah terekam didalam otak dan dosisnya semakin lama-semakin besar mirip dengan seorang yang telah kecanduan narkotika, ego akan semakin tumbuh gemuk ketika ia diberi makanan ini, ia akan menutupi diri sejati kita yang sebenarnya hingga suatu saat kita menyangka bahwa diri kita adalah kekuasaan yang kita pegang, kehormatan yang diperoleh, harga diri yang diberikan orang-orang sekitar, tubuh kita yang dianggap indah. Dan ketika semuanya itu terenggut dari genggaman kita, kita merasa tidak ada, malu, tidak berharga dan terhempas seperti onggokan sampah. Ekses yang diakibatkan bila mengidentikkan dengan ego kita begitu dahsyatnya, dan kebanyakan manusia terjebak dalam putaran yang menyesatkan ini. Kerusakan bumi berupa kelaparan, peperangan, hancurnya lingkungan hidup berawal dari mengidentikkan diri dengan ego. Peperangan yang mengatasnamakan bangsaku, agamaku, negaraku dan ku-ku lainnya adalah bukti nyata betapa ego yang dikedepankan sebagai solusi pemecahan masalah, malah menimbulkan kehancuran manusia. Seseorang yang mengalami konflik dalam dirinya berupa kemarahan, iri hati, kebencian, kekhawatiran dan ketakutan merupakan bukti yang paling dekat dan umum dialami manusia bila melulu mengagungkan kesenangan-kesenangan pribadinya. Merasakan rasa senang -bedakan dengan gembira dan bahagia- yang merupakan ingatan mekanis yang terekam kuat dalam otak seseorang akan mengundang penderitaan bagi dirinya. Rasa senang dan penderitaan adalah dualitas yang berlaku di dunia fisik ini, dualitas selalu mengikuti hukum alam ; baik-buruk, malam-siang, panas-dingin adalah rangkaian implementasi dari hukum ini. Dualitas selalu mencari pasangannya dan egolah yang memisahkan dualitas ini, “aku suka rasa senang , aku tidak mau penderitaan” begitulah jeritan sang ego ketika ia mulai memilah-milah dualitas. Sang ego menginginkan rasa suka yang kekal dan tidak akan betah mendapatkan pasangan rasanya. Saat ego mulai memilah-milah maka manusia terperangkap konflik dan pertikaian dalam dirinya, manusia tidak bisa lagi selaras lagi dengan alam, mengalami depresi berat, denyut kehidupannya tidak lagi sinkron dengan getaran alam yang harmonis. Ia akan berada dalam satu dunia, dunia aku –dunia ego- yang membentenginya dari kehidupan yang bebas lepas. Benteng ego ini begitu halus dan transparan sampai-sampai manusia yang terperangkap didalamnya tidak menyadarinya, ia masih menjalani hidup tapi bukan diri sejatinya yang hidup egonyalah yang berkuasa. Gembira atau bahagia adalah berbeda sama sekali dengan senang, manusia dalam bahagia dan gembira adalah manusia sebenar-benarnya, manusia yang tidak lagi terikat akan kecanduan rasa senang, ia bebas menari-nari dengan lenturnya, baginya kemiskinan sama indahnya dengan kemakmuran, keterpurukan tiada bedanya dengan kemasyuran, sang ego telah hilang dalam dirinya hingga ia tidak lagi terjerumus dalam konflik, ia telah bebas dari candunya, terbang seperti Elang di keemasan cahaya matahari, dualitas telah ia lampaui.